1000 Triliun Rupiah “Disedot” Kasino, Bawa Uang Bergoni, Pulang Tinggal Goninya

Bagian 4
Ilustrasi (Foto:google)

Ribu triliun rupiah “ganti kewarganegaraan” menjadi dolar Singapura. Bawa rupiah bergoni-goni, pulang tinggal goninya. Petaruh di Kasino selalu kalah. Kondisi itu berlangsung terus hingga sekarang.

Hampir semua pemain besar dan kecil membawa dolar Singapura dari Indonesia. Rupiah yang bergoni itu ditukarkan dulu ke dolar Singapura lewat pedagang valuta asing dalam negeri.

Bagi pemain yang membawa modal, misalnya, sebesar 10 miliar, tak mungkin dengan lembaran rupiah. Bayangkan kalau duit sejumlah itu, katakanlah dengan nominal Rp 100.000. Berapa goni itu?

Melihat lintas uang rupiah yang dengan leluasa “hijarah” ke luar, hampir dipastikan UU Nomor 8 Tahun 2010, pasal 34 dan 35 rapuh.

Disebutkan membawa uang senilai 100 juta rupiah atau lebih, harus “clereance” atau dilapor dulu ke petugas bea-cukai pelabuhan pemberangkatan.

Demikian juga peraturan Gubernur Bank Indonesia Nomor 4/8/PBI/2002: di atas 100 rupiah juta harus lapor. Kemudian kalau tidak melaporkan denda 10 %, maksimal denda sampai 300 juta rupiah.

Meski ketentuannya seperti dibatas, rupiah gampang saja lolos ke luar negeri (LN) sebanyak apapun jumlahnya dalam konteks para pejudi ini.

Itu makanya bahwa Menteri Keuangan Sri Mulyani dianggap “buta” dalam masalah ini. Mereka lalai dan tak paham fakta di lapangan. Apalagi masih banyak ditemukan petugas nakal sehingga dengan leluasa rupiah dengan nominal besar lolos dari pintu pelabuhan pemberangkatan.

Kelemahan undang-undang yang disebut di atas semakin jelas. Karena hampir jarang orang Indonesia bepergian ke luar negri membawa rupiah. Selain mata uang itu tak bisa dibelanjakan langsung di LN, ya, soal tumpukannya.

Perbedaan kurs yang sangat mencolok menjadikan duit bergoni tinggal seamplop bila ditukarkan menjadi dolar Singapura. Nilai kurs 1 :10.000.

Soal perbedaan kurs yang mencolok ini juga masalah lemahnya kontrol lintas keuangan kita di pelabuhan pemberangkatan.

Pihak Bea dan Cukai di setiap bandara sulit mendeteksi sejumlah uang dolar di kantong celana seorang penumpang ke LN.

Sebagai contoh, uang 500 ribu Singapura atau setara dengan 5 miliar rupiah akan sulit terdeteksi petugas di dalam kantong celana, jaket para penumpang. Apalagi dolar yang dikantongi, dengan lembaran 1000 Singapura.

Selain dibawa langsung, modus lain yang biasa “dimainkan” adalah lewat agen tertentu di jaringan Kasino.

Contohnya, seseorang butuh sekitar 2 juta dolar, di sana ada “bank” berjalan. Ada perdagangan dolar gelap di sana.
Pinjam duit di Singapura dengan bunga tertentu, bayarnya transferan antar bank di Indonesia.

Suasana di Kasino Singapura(Foto:Batamupdate.com)

Lagi-lagi urusan lintas uang sebagian perbankan di Indonesia tidak seketat di Singapura. Kasino juga diyakini bisa link dengan bankir tertentu sehingga transfer uang rupiah dengan hitungan besar tak terdeteksi signal Bank Indonesia atau Menkeu keperluan transferan itu.

Begitu rawannya kontrol akan lalu lintas uang antarnegara ini. Memindahkan rupiah dari Indonesia oleh para nasabah sangat gampang meski peraturan mengontrolnya dengan ketat.

Lalu akan teruskah kondisi seperti ini terjadi?Dan apakah Indonesia dirugikan atas pindahnya “kewarganegaraan” rupiah yang triliunan itu? Hal ini kembali ke Menteri Keuangan dan pihak Bank
Indonesia (bersambung…)

Para Gubernur, Bupati berkeliweran di Kasino Singapura. Banyak ASN Ke LN tanpa Izin Mendagri. Melanggar peraturan lagi. Koq bisa? Baca pada laporan selanjutnya.

Suasana di Kasino Singapura (Foto:Batamupdate.com)

Bagikan

Post Comment