1000 Triliun Rupiah “Disedot” Kasino, Mendagri Tak Tahu Banyak Oknum ASN Berjudi

Bagian ke 5
Suasana di Kasino Singapura (Foto:Batamupdate.com)

Apes nian nasib Bupati Talaud (Sulawesi Utara) Sri Wahyuni Manalip (SWM).

Wanita cantik ini, Januari lalu, diberhentikan sementara dari jabatannya oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Cahoyo Kumolo.

Sri ketahuan pelesiran ke Amerika selama 20 hari, tak seizin Mendagri. Info yang viral, Sri Wahyuni menghadiri undangan Presiden Donald Trump di negara adidaya itu.

Tapi tak demikian dengan beberapa oknum Kepala Daerah lain yang keranjingan ke Luar Negeri (LN), juga tanpa izin.

Beberapa oknum Gubernur, Bupati, Wali Kota dan Aparatur Sipil Negara (ASN), tak tersentuh sanksi Mendagri.

Jangankan diberhentikan, Mendagri pun tak tahu mereka ke LN.

Para oknum pejabat negara itu, bebas bolak-balik ke Singapura, berjudi. Membawa bergepok-gepok dolar Singapura.

Padahal Peraturan Mendagri RI No 29 Tahun 2016, sebenarnya, sudah mengatur tentang pedoman perjalanan dinas ke mancanegara.

Bagi ASN dan para Kepala Daerah, bila ke LN harus terlebih dulu mendapat izin dari Departemen Dalam Negeri (Mendagri). Itu pun harus dengan alasan yang tepat.

Tapi, fakta selama ini, peraturan itu dianggap angin lalu. Mereka pun bisa leluasa ke berbagai negara tujuan. Tanpa izin.

Hari libur panjang dan weekend adalah hari yang tepat bagi para oknum ASN ke Kasino Singapura itu.

Beberapa oknum pejabat Negara, para aparatur dan pimpinan instansi tertentu yang sering tampil di media, tampak ramai di sana.

Hal inilah, yang tak dilihat dan tak terpantau pihak Depdagri selama ini. Baik Menteri Cahyo dan jajarannya.

Belum lagi para oknum pejabat yang wilayahnya berdekatan dengan Singapura seperti Riau, Kepri, Batam dan lainnya.

Peraturan yang disebut di atas, tampaknya, tak begitu kongkrit. Misalnya, tentang pencegahan dini bagi para ASN.
Depdagri dengan Imigrasi belum ada kerja sama soal ini.

Instansi pemberi izin di pelabuhan pemberangkatan adalah Imigrasi. Siapa pun yang akan bepergian ke LN dibenarkan, kecuali yang kena Cegah Tangkal (Cekal) .

Kondisi selama ini, begitu calon penumpang masuk pintu Imigrasi, tinggal masukkan paspor ke mesin auto gate . Pintu terbuka, tinggal lewat.

Auto gate adalah sistem pengawasan elektronik otomomatis yang mengenali ciri-ciri dan data calon penumpang sesuai yang tertera di buku paspor. Pengamanan elektronik ini juga bersamaan dengan pengecekan fingerprint atau sidik jari.

Sekarang ini, lembaran paspor penumpang sudah jarang di stempel petugas Imigrasi. Lebih banyak lewat pengecekan mesin otomatis.

Diberlakukannya sistem otomatis ini, maka makin sulit mengawasi para oknum ASN yang plesiran ke LN. Kalau pun kemudian ketahuan ke LN tanpa seizin Mendagri, paling hanya kena sanksi.

Hal di atas salah satu kelemahan Negara dalam pengawasan di berbagai bidang.

Para oknum pegawai instansi negara dan sebagainya hilir -mudik ke LN, tanpa kontrol.

Tidak saja hanya pengawasan orang, demikian juga kontrol terhadap aliran rupiah triliunan.

Maka tak perlu heran tentang kondisi negara yang carut marut ini. Negara kesulitan dana anggaran pembangunan. Mengutang ke LN. Di saat itu pula ribuan triliun rupiah pindah “kewarganegaraan” ke Kasino Singapura.

Soal lemahnya pengawawasan uang ke LN sudah dibahas dalam tulisan sebelumnya. Menteri Keuangan Srimulyani “buta” soal masalah ini. Apalagi menindaknya.

Padahal peraturan Menkeu dan Bank Indonesia membatasi setiap warga negara membawa rupiah dan mata uang lain ke LN.

Dalam UU No 8 tahun 2010 dan Peraturan Bank Indonesia No. 4/8/PBI/2002 menyebut, membawa uang rupiah di atas Rp 100 juta harus dilaporkan terlebih dulu kepada petugas Bea dan Cukai di pelabuhan.

Peraturan inilah yang dilanggar selama ini. Para pejudi, mungkin juga yang lain. Mereka dengan leluasa membawa valuta asing di luar batas yang ditentukan. Peraturan pun mandul. Pengawasan apalagi.

Lalu apakah kondisi seperti ini akan berlangsung terus-menerus tanpa tindakan tegas dari Mendagri dan departemen terkait lain. Apakah juga para oknum Kepala Daerah dan ASN itu dibiarkan terus leluasa hilir-mudik ke LN tanpa izin, apalagi ke Kasino?

Ini masalah krusial yang segera harus dituntaskan. Pengawasan ketat tentang lintas uang dan (orang) ASN ke LN.

Kalau tidak, bukan hanya 1000 triliun rupiah yang pindah “kewarganegaraan” ke Singapura, bisa jauh lebih dari itu. Mungkin saja, suatu saat, muncul hal besar lainnya.***

Para Pekerja Indonesia dari berbagai jurusan pun doyan ke Kasino. Karena setiap orang ke Kasino tak dibatasi. Banyak sekali WNI yang jatuh korban. Uang gaji para pekerja di sana, ludes di meja judi. Banyak para pekerja kapal yang diberhetikan karena lelap di Kasino. Seperti apa kisahnya. Ikuti laporan selanjutnya…

Suasana di Kasino Singapura (Foto:Batamupdate.com)

Bagikan

Post Comment