1000 Triliun Rupiah “Disedot” Kasino, Stigma Pemerintah Singapura Lebih Sadis dari Pembunuh

Bagian 6
Suasana di Kasino Singapura (Foto:Batamupdate.com)

Telah dijelaskan dalam laporan bagian 1 sampai 4, tentang dahsyatnya pertaruhan di meja Kasino Sentosa dan Kasino Marina Bay Sands itu.

Tentang uang Warga Negara Indonesia (WNI) tersedot di arena judi. Perkiraan seribu (1000) triliun lebih rupiah terkuras di sana selama enam tahun. Dan, sampai sekarang masih terus berlangsung.

Demikian juga dengan profil para WNI pejudi tajir, setengah tajir, di bawah tajir dan sampe yang tak ada tajirnya, sudah diulas.

Bagaimana kejam dan getirnya akhir dari petaruhan di meja judi itu.

Banyak yang bangkrut. Menjadi gelandangan, padahal sebelumya kaya besar. Bahkan diduga ada beberapa pemain yang meloncat dari lantai Hotel bertingkat tinggi lalu tewas. Itu, akibat dampak tekanan jiwa karena kalah banyak berjudi di Kasino.

Kekejaman Kasino di bawah pengawasan Pemerintah Singapura itu tak berhenti pada korban kelas tajir.

Orang miskin disikat juga. Ironis, orang-orang yang mencari sesuap nasi di Singapura, baik pekerja sah dan gelap pun “terseret” jadi korban bisnis judi itu.

Maka tak heran, banyak para kuli kasar dengan gaji pas-pasan “tengkurap” di sana. Gajinya yang seharusnya dibawa pulang membiayai keluarganya, seketika ludes. Hidup mereka akhirnya menderita.

Para pekerja rendahan seperti itu banyak menjadi gelandangan di seputaran kawasan Kasino. Entah sampai kapan.

Pekerja resmi visa terbatas, dengan gaji antara 600 SGD sebulan, tak terhitung yang jadi korban. Banyak pekerja dari mancanegara. Pulang ke negaranya bukannya bawa uang, tapi bawa hutang.

Pekerja dari Bangladesh menjadi contoh nyata. Kafihie Ndaarul (31). Lelaki kulit hitam ini, enam bulan bekerja di Singapura.Dia outsourcing dari perusahaan pengerah tenaga kerja di negaranya.

Setiap liburan mingguan atau setiap gajian, dia selalu masuk Kasino. Ikut bertaruh. Gaji sebulan yang hanya 600 SGD, ludes dalam hitungan jam di arena judi internasional itu.

Satu saat dia telepon ke saudara di negaranya. Meminjam uang dengan alasan yang dibuat buat bahwa visa kerjanya sedang bermasalah di Singapura. Padahal mau modal berjudi.

Para pekerja kasar itu, kebanyakan warga negara India, Bangladesh, Burma. Ada juga dari Indonesia. Dari Philippina pekerja yang setingkat di atas kelasnya.

Lain lagi pekerja serabutan dadakan dari Batam. Rusaisah (35), wanita ini seorang pencuci piring di salah satu rumah makan di Singapura. Gajinya paling besar 50 SGD per hari. Itupun sudah kerja lembur. Dia sering masuk di Kasino. Setiap masuk di meja judi, duit gajinya selalu habis.

Kasino bagi pekerja tidak permanen dimanfaatkan juga untuk “rumah tidur”. Duduk sambil tertidur di kursi Kasino. Mereka sering juga mandi di kamar mandi yang mewah di sana.

Jadi, misalnya, hari ini Rusaisah masuk Singapura lalu kerja pagi. Pulang sore malah ke Kasino. Kalau ke kosan mahal. Di Kasino banyak fasilitas. Bermacam minum gratis. Syukur-syukur ketemu orang yang berduit yang punya belas kasihan.

Masih banyak lagi Kafihie dan Rusaisah lain yang sama nasibnya. Maksud ke Singapura mencari nafkah untuk keluarganya, akhirnya terjebak ke Kasino, lalu duit habis sia-sia.

Ribuan pekerja kapal laut. Ribuan juga pekerja harian dan pekerja serabutan. Bahkan beberapa tenaga kerja wanita rumahan pun ikut “ditelan” Kasino.

Banyak pekerja yang duitnya ludes di Kasino nasibnya terlunta-lunta. Jangan heran, bila sekarang meningkat jumlah orang tidur diemperan. Dulu jarang.

Para pedagang kecil-kecilan Batam-Singapura juga tak luput dari korban Kasino “pembunuh berdarah dingin itu”. Awalnya, bawa modal dari Batam untuk belanja barang second mau dijual di Batam. Iseng masuk Kasino, ketagihan. Kalah. Akhirnya berhenti berdagang karena modalnya sudah ludes ditelan mesin judi.

Banyak problem keluarga muncul, diantara para pencari sesuap nasi di Singapura itu.
Banyak pekerja kapal yang sudah dipecat dari pekerjaannya karena kecanduan judi. Ini semua efek negatif sensasi Kasino.

Sadis, kejam dan sungguh kejam cara pemerintah Singapura itu sampai menyasar mengorek dan menguras dolar dari kocek para pekerja, khususnya kelas teri.

Ibarat jaring Pukat Harimau di laut. Paus dijaring. Kakap dikuras. Teri pun dihisap. Demikian teganya.

Ini fakta. Sebab semua fasilitas meja dan mesin permainan judi menyediakan berbagai variasi tarif pasangan. Tarif untuk super kaya banyak. Penjudi dengan pasangan paling rendah 1 SGD ada. Si miskin masuk Kasino. Alih-alih dapat untung, malah jadi buntung.

Jadi, dua Kasino di Sentosa dan Marina Bay Sands (MBS) itu boleh dibilang menjadi mesin “pembunuh” bagi siapapun yang coba menguji nasib, termasuk sekian banyak si miskin.

Satu Sen pun Jangan Terbawa Pulang

Ilustrasi kalah judi (Foto:Net)

Banyak orang miskin dan para pekerja rendahan menjadi korban Kasino. Uang terkuras dan mereka “mati”. Kalau mati benaran lebih baik. Hidup mereka terlunta-lunta dan menderita. Inilah dasar menuding dan memberi stigma kepada pemerintah Singapura: “lebih kejam dari pembunuhan”.

Karena kebijakan pemerintah Lee Hsien Loong lah, sehingga ribuan si miskin bebas terperangkap di Kasino.

Ini persoalan besar bagi negara-negara di luar Singapura, khususnya negara Asean. Harusnya, sesuai semangat di Asean bahwa sesama mereka harusnya ada kerja sama yang saling mengawasi para pekerja rendahan di negara masing-masing untuk tidak menjadi korban judi kasino.

Justru selama ini, pemerintah sesama Asean “buta” bahwa warganya banyak “tewas” di Kasino. Apalagi pihak Kedutaan Besar nya di sana, lebih buta lagi.

Tak menyangka bahwa pihak pemerintah Singapura sebagai pemegang share saham di Kasino, tidak membatasi level ekonomi setiap pengunjung di sana. Harusnya pemerintah di negeri “singa” itu membuat aturan bagi WNA dengan level ekonomi seperti apa yang bisa masuk kasino.

Orang miskin pun bisa masuk Kasino. Ini sekaligus membantah mitos selama ini, hanya si kaya yang bisa masuk Kasino.

Banyak pihak berpendapat bahwa dengan cara itu, sekaligus menunjukan, bagaimana rakusnya pemerintah Singapura akan duit.

Saking rakusnya, sampai ada anekdot, “apapun bisa anda lakukan di Singapura selagi anda cukup uang. Bahkan melanggar UU pun tidak apa-apa, kalau anda dapat membayar dendanya”.

Pemerintah Singapura memang sengaja membiarkan semua orang asing menjadi sasaran jaring Kasino. Termasuk para si miskin itu.

Sebaliknya, orang Singapura diproteksi atau dilindungi dari kerusakan moral dan ekonomi. Cara memproteknya, setiap warga Singapura harus terlebih dulu bayar 100 SGD baru bisa masuk. Jadi warganya tak sembarang orang bisa ke Kasino.

Pihak Singapura tahu benar risiko dahsyat akibat judi itu. Sehingga warganya dibatasi.

Lain bagi warga asing. Pemerintah Singapura, tampaknya, sudah mendesain cara seperti itu. Tidak hanya orang tajir, si miskin pun disedot. Demi uang. Singapura disebut sudah punya semboyan:”satu sen pun uang pejudi, jangan sampai terbawa pulang”.

Singapura memang kota Kosmopolitan. Negara dengan biaya hidup termahal di dunia. Negara itu tidak punya sumberdaya alam sama sekali. Tapi negara itu super kaya. Apalagi ditambah pundi-pundi dari dua Kasino dengan pajak negara 30 persen.(***)

Pemerintah Singapura harus diprotes atas dibukanya pintu Kasino bagi para pekerja atau kuli orang asing di Singapura. Ikuti laporannya berikutnya…

Bagikan

Post Comment