Apa Kabar Jokari-Link Nurdin?

Nurdin Basirun Gubernur Kepulauan Riau (Foto:Tribunnews)

Batam- Batamupdate.com

Judul tulisan ini, relatif ideal mempertanyakan tanggung jawab Nurdin akan kelanjutan proyek Jokari-Link yang sudah lama senyap.

Saat menjabat Bupati Karimun tahun 2014, Nurdin memang pernah bermimpi membangun satu proyek fisik berkelas dunia.

Dia berangan besar mewujudkan satu mega proyek infrastruktur pembangunan terowongan bawah laut.
Direncanakan dari Kukup, Johor Malaysia ke Pulau Karimun yang terpaut laut itu. Jokari-Link namanya. Dari Karimun bentangan terowongan itu juga akan mengular lagi sampai kedaratan Riau. Panjangnya sekitar puluhan kilometer. Itu mimpi itu.

Jalur Jokari-link (Foto:google)

Rencana teknik konstruksi bangunan terowongan bawah itu dirancang berteknologi tinggi. Berada di bawah laut. Bahkan 30 meter masih di bawah permukaan tanah di dasar laut itu.

Nah, di dalam terowongan berdiameter sekitar 15 skala itulah dirancang satu jalan yang melinkkan dua negara bertetangga itu. Terowongan dengan fasilitas jalan untuk ribuan kendaraan. Kelak melalu-lalangi bumi Riau- Karimun-Kukup Johor, Malaysia.

Tak terbayang ide besar Nurdin itu bisa tiba-tiba muncul, meski pada saat itu banyak pihak meragukannya.

Pun kemudian Nurdin, berupaya meluruskan lalu meyakinkan rakyat bahwa ide menghubungkan kedua kawasan regional beda negara itu adalah dalam rangka membangun ekonomi baru bagi kemakmuran rakyat di antara kedua negara.

Proyek raksasa yang setara dengan terowongan bawah laut antara Perancis dengan London di Eropa sana.
Antara Hexsagon dengan United Kindom (Inggris).
Antara selat Calaris ke selat Folkestone di Inggris. Euro Tunnel namanya.

Proyek seperti itulah yang dimimpikan Nurdin yang hanya memiki kekuatan finansial total APBD tahunan sekitar 1 Triliun itu.
Belum terkonfirmasi berapa besar biaya yang dikucurkan membangun terowongan di Eropa itu.
Tapi taksasi dana untuk membiayai proyek Jokari-Link Nurdin itu disebut mencapai puluhan triliun rupiah. Itu hitungan empat tahun lalu.

Rilis Nurdin, dulu, bahwa investornya sudah ready. Tinggal bagaimana memfinalisasi segala aspek teknik yang berhubungan dengan proyek itu. Begitu dahsyatnya perencanaan dan ‘kepedean’ Nurdin itu.

Pembahasan soal rencana proyek spektakuler itupun bukan hanya melibatkan ahli konstruksi dalam negeri. Para ahli dari BPPUTM (Badan Pusat Penelitian Universiti Teknologi Malaysia) di bawah Dr Ing Eko Supryanto selaku Direktur Research UTM ikut dalam satu pembahasan di Karimun, saat itu.

Dari dalam negeri juga, Nurdin, melibatkan pihak Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) dari Jakarta dan pakar konstruksi terowongan berkelas dunia dan ahli jembatan.

TENTU, hampir bisa dipastikan bahwa biaya perencanaan proyek ini bisa jadi memakan dana yang tidak tanggung besarnya. Bisa jadi miliaran mulai dari biaya ‘feasiblity study’ sampai pada tahapan akhir perencanaan. Ini juga menjadi pertanyaan besar?

Lalu hasilnya? Inilah masalahnya. Tampaknya bak bermimpi panjang, Nurdin, hingga kini belum siuman. Hingga lelaki berkumis ini duduk sebagai Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) tahun 2016 sampai sekarang, cerita tentang rencana pembangunan jembatan ini pun lesap tanpa suara.
Fakta di lapangan, jangankan realisasi pembangunan fisiknya, pembicaraan akan pelaksanaan terowongan ini pun semua orang seakan melupakannya.

Lalu ada apa motif dibalik mimpi ini? Bila melihat tabiatnya, Nurdin tampaknya kebiasaan menghayal tak karuan.

Masih dalam mimpi panjangnya, gubernur yang baru memiliki wakil ini justru bermimpi aneh lagi.

Mimpi yang nyaris sama tapi dari tempat tidur yang berbeda.
Satu rancangan Jembatan yang membentang dari Selat Tanjung Sauh di Batam ke Pulau Bintan dirilis lagi.

Bahkan proyek ini, kata Nurdin, akan groundbreaking pada Juni mendatang. Molor dari jadawal yang dijanjikan April ini.

Taksasi pembiayaan mimpi barunya itupun tak tanggung-tanggung. Mencapai triliunan rupiah. Panjang proyek jembatan yang itu pun akan membentang sepanjang tujuh kilometer.

Tidak saja hanya jembatan itu. Satu proyek besar lain seperti pembangunan Pelabuhan Kontiner (Peti Kemas) di Tanjung Sauh berbiaya 20 Triliun pun dikhayalkan secara bersamaan.

Kedua proyek ini pun masih satu paket dengan 5 proyek lainnya yang dikaitkan dengan pembangunan ekonomi bermasa depan di kawasan yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia ini.
Rancangan proyek ini, juga telah disetujui Presiden Jokowi meski dana untuk pembiayaan serta kebijakan hal teknis lainnya belum ada pembahasan kongkrit. Proyek ini disebut Non APBN.
Seolah menggesa proyek super jumbo ini, dirilis pula tentang telah dibentuknya satu konsorsium yang bergabung di dalam PT Pembangunan Kepri Raya. Konsorsium yang akan bekerja sama dengan pemerintah provinsi maupun pusat dan pendana dari luar negri untuk merealisasikan proyek ini.

Demikian juga menyangkut pembiayaan. Tim dari konsorsium tengah mulai bergerilya ke daratan Tiongkok. Ke sana “menghiba” pendanaan akan proyek bilateral ini.

Penasehat ekonomi sang gubernur, Johannes Kennedy sang “Taipan” Panbil Grup di Batam telah muhibah diplomasi pinjaman pembiayaan ke Tianjin, China, Februari lalu. Dia sudah bertemu dengan petinggi China Communication Construction Company (CCCC) di negeri Xi Jinping itu. CCCC adalah BUMN Tiongkok yang mendanai sejumlah proyek konstruksi di mancanegara.

Bermimpi tak ada salahnya. Mau mimpi apapun, sepanjang mimpi itu tidak merugikan banyak pihak.

Menjadi masalah adalah bila seorang gubernur sebagai tumpuan dan harapan masyarakat akan peningkatan pembangunan daerahnya justru sering mendongeng alias ngibul terhadap rakyatnya.

Kita akan menunggu sampai di mana janji-janji rencana proyek mercusuar ini. Menunggu yang kedua kali setelah mimpi berkepanjangan terowongan Jokari-Link itu.

Akankah kita selalu didongengi dengan berbagai mimpi yang entah apa tujuan para pemimpi besar ini, waktulah yang akan menjawab.

Sebab, sesungguhnya mimpi yang sama juga sudah bergulir dalam kurun waktu lebih 30 tahun.
Mimpi serupa yang pernah diumbar BJ Habibie tahun 1990 an. Juga mimpinya Gubernur Kepri Ismet Abdullah tahun 2005. Bahkan Ismet dituding sedang ngigau di atas tempat tidurnya karena sampai dia dicokok KPK, mimpinya tak kunjung berujung.

Sebenarnya, banyak masyarakat yang meragukan akan terwujudnya fisik proyek-proyek ini, kalau tak sudi disebut hanya bualan. Apalagi merealisasikan dalam waktu dekat. Diragukan karena menyangkut dana yang sangat besar di tengah kondisi keuangan negeri yang lagi bokek. Itu salahsatu masalah utama.

Kalaulah mimpi ini benar-benar mimpi yang tak berkesudahan, bisa jadi masyarakat akan menamai Nurdin sebagai manusia aneh. Manusia yang bermimpi (tidur) sambil berjalan.

Bermimpi apa saja tak ada salahnya. Asal mimpi itu tidak menjadi topeng sebagai alat untuk menggerogoti uang rakyat. Dan, kalau ada sejumlah biaya yang dihabiskan seolah menskenario akan ada proyek besar di tengah masyarakat, ini sangat perlu segera diusut penggunaan biaya itu.(Mr Nohoks)

Bagikan

Post Comment