Danau Toba Menangis dan Horor itu

Presiden Jokowi saat berkunjung ke Danau Toba (21/8/2016). Foto:twitter

Oleh: Emgeen

Tak terpungkiri tangis kita atas musibah tenggelamnya KM Sinar Bangun. Peristiwa dua minggu lalu di Danau Toba itu.

Musibah kemanusiaan. Kejadian nahas di perairan antara Simanindo, Samosir dengan Pelabuhan Tigaras Kabupaten Simalungun, Sumut.

Saat melayari perairan berjarak 45 mil atau 15 Km, Senin(18/6). Di tengah hantaman ombak. Cuaca berkabut. Kapal yang terbuat dari bahan kayu itu tak kukuh hingga ketepian. Pelabuhan Tujuan:Tiga Ras.

Kapal dengan panjang sekitar 13 meter. Tinggi sekitar 3 meter. Luas tengah badan kapal 5 meter, tak berdaya dengan terpaan alam.

Setelah terombang-ambing diterpa goncangan ombak, jelang malam, sekitar pukul 17.30, alamat buruk itu pun terjadilah. Nahas bagi kapal dengan bobot 35 GT(gross tonage) yang dipaksa memuat 188 penumpang dan 70 sepeda motor itu. Kapal yang di Nahkodai Tua Sagala itu pun karam, seisinya.

Ibarat secepat kilat menyambar, kabar kemanusiaan itu sepanjang malam, viral. Menjadi isu dan keprihatinan Nasional.

Besoknya, tak kurang dari Presiden Jokowi bereaksi keras. Dia mengeluarkan perintah tegas. Perintah kepada kementerian terkait untuk menangani masalah ini secara tuntas.

Dalam tragedi itu, hanya 19 orang yang bisa menyelamatkan diri atau diselamatkan. Besoknya, tiga orang ditemukan dalam keadaan meninggal. Selebihnya atau sebanyak 166 jiwa tenggelam bersama bangkai kapal ke dasar danau sedalam 450 meter.

Dua minggu kemudian, setelah hiruk pikuk upaya pencarian tim BNPP (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan)-dulunya BaSARNas-, tangis itu makin pedih. Jasad para korban harus kita pasrahkan. Takdir mereka harus bersemayam selamanya di dasar danau. Kepasrahan mendalam, khususnya bagi pihak keluarga yang ditinggalkan.

Sebenarnya, posisi sejumlah jasad dan bangkai kapal termasuk sepeda motor sudah terdeteksi. Gambar dan rekaman kamera tim pencari terlihat jelas bagaimana kondisi di dasar danau. Itu setelah robot disertai teknologi Remotely Operated Vehicle (ROV) yang diturunkan BNPP atau tim pencari dan penyelamat.

BNPP yang berkolaborasi dengan PT Mahakarya Geo Survey-Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IAITB). Teknologi merekalah yang diturunkan ke dasar danau berkedalaman 450 meter itu.

Rekaman visual atas fakta itu sempat membuat kita sedikit lega. Harapan akan mengangkat jasad para korban menjadi dambaan besar. Terutama bagi pihak keluarga.

Tapi sayang, upaya pemerintah di bawah koordinasi tim BaSARnas  tak kuasa mengevakuasi jasad-jasad itu. Kondisi alam di luar jangkauan manusia. Selama dua minggu, tim berpeluh bekerja maksimal. Tapi, manusia memang punya keterbatasan.

Terhitung, Selasa(3/7), pemerintah resmi menghentikan permanen pengangkatan jasad para korban dari dasar danau.  Kecuali bila ada yang mengapung.

Meski pemerhati sosial Ratna Sarumpaet dihadapan Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, berteriak. Di saat Luhut berbicara dengan keluarga sejumlah korban di Tigaras, di Posko musibah. Sekonyong-konyong sosok Ratna muncul di lokasi posko. Dia bertetiak memaksa tim agar jasad para korban harus diangkat. Alasan demi kemanusiaan. Sampai cekcok mulut.

Tapi BNPP memutuskan lain. Upaya evakuasi tak mungkin bisa dilakukan. Bisa jadi sangat berisiko besar bila tindakan pengangkatan jasad dilanjutkan. Kondisi kedalaman danau jadi kendala utama. Ini jugalah yang disebut:alam punya kuasa juga.

Begitu kelamnya musibah kali ini. Ini  pukulan telak bagi pariwisata Danau Toba yang baru kembali digalakkan pemerintahan Jokowi.

Peristiwa inilah yang melatar-belakangi judul tulisan ini: Danau Toba Menangis.

Atas peristiwa ini, tak salah kita menundukkan kepala sejenak. Ini sebagai tanda penghormatan terakhir kepada para korban.
Turut berbelasungkawa kita kepada pihak keluarga yang ditinggalkan.

Peristiwa tenggelamnya kapal dan transportasi di danau terbesar di Asia Tenggara ini, bukan kali pertama. Sepanjang sejarah danau alam tekto-vulkanik itu, beberapa kali kejadian kapal tenggelam dengan korban manusia.

Tapi peristiwa KM Sinar Bangun ini adalah musibah terbesar dalam jumlah korban meninggal.

Korban terbesar kedua di Danau Toba pada peristiwa tenggelamnya Kapal Peldatari I Senin 14 Juli 1997. Merenggut 83 jiwa.

Danau Toba Menangis; harapan kita, inilah tangis kita yang terakhir.

Horor di Danau Toba

Sungguh ekstrim bila membaca anak judul tulisan ini. Bukan berarti tulisan ini bermaksud menambah kelamnya situasi.

Namun ada hikmah yang perlu kita catat di balik peristiwa demi peristiwa yang merenggut jiwa manusia di Danau Toba. Apalagi bagi siapapun yang terlibat dalam dinamika kehidupan ekonomi di seputaran danau di sana.

Hikmah yang perlu kita renungkan adalah melakukan introspeksi diri, khususnya bagi setiap pelaku pariwisata di sana. Baik itu dari pemerintah maupun dari masyarakat itu sendiri. Apalagi bagi para pelaku usaha diseputaran kehidupan danau.

Bahwa telah terjadi musibah yang menggemparkan negeri ini, itu satu fakta. Tapi bahwa ada kesalahan manusia di balik peristiwa itu, agaknya sulit dibantah.

Horor di Danau Toba. Ini bukan persepsi. Itu fakta yang sulit kita hindari. Apalagi peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun berkapasitas penumpang 45 orang ini, dibumbui dengan opini takhayul. Gosip mistis yang viral di medsos. Seolah Danau Toba itu dihuni para roh jahat yang setiap saat mengintai korban jiwa. Menakutkan.

Padahal menurut akal sehat. Sesuai fakta dan kronologis sebelum peristiwa itu: KM Sinarbangun berlayar menabrak logika dan aturan.

Kapal kayu dengan kapasitas normal, 45 penumpang. Tapi dipaksa mengangkut  188 orang. Fungsi kapal hanya untuk mengangkut penumpang (orang). Faktanya, diisi dengan 70 sepeda motor. Berat beban 1 sepeda motor rata-rata 90 Kg. Space atau koridor sisi kiri-kanan kapal penuh dengan jejeran sepeda motor. Ibarat showroom berjalan di tengah danau.

Satu lagi pelanggaran berat sebagai kesengajaan manusia itu. Kesalahan  para pelaku usaha pelayaran yang nahas itu: jumlah persediaan pelampung yang sangat terbatas tidak sebanding dengan jumlah penumpang. Nah, begitu cuaca tak normal, maut menanti.

Kondisi seperti ini hampir berperilaku rata di Danau Toba. Di setiap transportasi angkutan yang berlayar di danau itu. Setiap hari. Seperti itu. Fasilitas atau alat-alat keselamatan selalu sangat minim. Bahkan tidak ada sama sekali.

Mengapa semua ini terabai. Mengapa dibiarkan secara sengaja oleh aparat perhubungan maupun atau instansi yang berwewenang?

Inilah horor-horor Danau Toba yang sangat menakutkan selama ini. Pengawasan para petugas pemerintah tak berjalan. Sengaja ada pembiaran. Apalagi pada saat Peak Season. Saat  libur lebaran dan hari besar lainnya. Di saat mobilisasi manusia ke luar masuk Danau Toba dan Pulau Samosir membludak. Di hari libur panjang itu.

Banyak horor lain lagi dari orang-orang yang berkecimpung di pariwisata Danau Toba itu. Sadar atau tidak. Selama ini, tentang karakter segelintir warga di sana. Itu sudah menjadi rahasia umum.

Masalah komunikasi para pelaku usaha diseputaran Danau Toba. Apalagi  terhadap pendatang (wisatawan).

Ketika pemerintah sedang memberi perhatian mendorong kawasan ini sebagai kawasan pariwisata yang bisa menggerakan ekonomi nasional, sikap metal segelintir masyarakatnya tadi, agak susah berubah dari tabiat lama.

Kultur masyarakat Batak Toba yang bukan dilahirkan sebagai pelayan dalam konteks bisnis, menjadi satu persoalan.

Kejadian yang pernah dialami penulis. Satu saat, ketika hendak menyeberang dari Ajibata ke Tomok dengan feri angkut kendaraan. Suara yang memekak dari pengeras suara (mikrofon) di feri itu tiba-tiba memekakkan telinga para konsumen. Terdengar kata kata memaksa para calon penumpang. “Kepada para pemilik mobil yang mau masuk ke roro. Bila anda tidak mau masuk sekalian di dalam mobil anda, kami tidak akan mengangkut anda”. Itu disuarakan berulang-ulang.

Kalimat memaksa. Otoriter. Bukan kalimat mengajak. Bukan pula melayani dengan baik. Apalagi dengan tone yang keras dan kasar memarahi konsumen. Padahal kondisi ini masih dalam konteks bisnis yang mengedepankan pelayanan dengan komunikasi yang baik.

Pengalaman lain di Pelabuhan Tigaras. Pelabuhan tujuan KM Sinar Bangun yang nahas itu. Satu ketika. Di pagi hari. Trip pertama roro tujuan Simanindo.

Para pengendara yang mau menyeberang. Setelah memarkirkan kendaraan di dermaga menunggu naik ke feri.

Mereka ramai-ramai menunggu di loket pembelian tiket. Penjaga loket tiket feri yang baru tiba. Entah roh jahat mana yang merasukinya. Sekonyong-konyong  lelaki itu marah-marah. Nada kalimat  yang diucapkan kasar. “Jangan bertumpuk di sini. Ke sana. Kalau tidak pergi, saya tidak kasih tiket dan kendaraanmu tidak kami angkut.”

Kalimat di pagi hari itu menyentak dan mengusik perasaan banyak orang. Padahal membuat orang “menumpuk” di depan loket karena penjaga loket terlambat datang melayani penumpang. Sementara jadwal berlayar feri sudah tiba.

Suasana seperti itu hampir rata di semua lokasi pelayanan transportasi umum di Danau Toba.

Kalau kita orang yang lahir di daerah itu, karakter seperti itu bisa kita pahami. Paling tidak mengelus dada. Lalu bagaimana kalau itu terjadi kepada pendatang yang baru menginjakkan kakinya di sana? Mikir.

Banyak horor lain yang sehari-hari dipertonkan di seputaran kawasan pariwisata Danau Toba itu.

Cerita klasik tentang kekecewawan para pembeli buah oleh-oleh yang dijajakan di seputaran Kota wisata Parapat dan di tempat lainnya. (Tentang ini tunggu di tulisan berikutnya di media ini).

Perbuatan segelintir oknum yang selalu menakutkan orang ke kawasan Danau Toba masih terus berlangsung sampai sekarang.

Pada liburan dua minggu lalu, pemilik kendaraan yang mengantri menunggu feri Danau Toba I dan II, dipalak setiap mobil Rp 10 Ribu per kendaraan. Kutipan itu jelas pungli alias pungutan liar.

Seorang pemilik mobil sempat bertengkar dengan preman pengutip uang pungli. Menurut si pengutip bahwa uang itu uang nomor antri. Tapi ketika diminta bukti resminya, petugas pengutip mengelak. Cekcok mulut sempat terjadi. Mobil berplat BM itu akhirnya menyumpah dan berikrar tidak akan datang lagi berwisata ke Danau Toba. Kutipan liar ini tidak saja hanya di Ajibata. Tapi di Tomok pun berlaku sama. Aparat formal yang bertugas di sana mengetahui tindakan horor ini. Tapi tampaknya setali tiga uang. Tidak beda dengan tindakan aparat pelabuhan terhadap KM Sinar Bangun itu.

Tentu tak cukup ruang mejelaskan secara detail berbagai horor di Danau Toba. Horor akibat ulah manusia yang tidak bertanggungjawab. Tindakan yang merusak masa depan pariwisata di sana.

Alam kawasan Danau Toba itu indah. Jutaan orang sudah tau. Tapi, bahwa kunjungan orang ke destinasi pariwisata di sini jauh ketinggalan dari kawasan wisata lainnya di Indonesia, itu satu realita.

Itulah mengapa pemerintah Jokowi berpeluh memotivasi kawasan ini agar kembali ramai dari kunjungan wisatawan seperti “boomingnya” di tahun 80 an. Sebelum kawasan wisata Bali populer.

Banyak masalah yang harus dibenahi di tanah Batak ini. Banyak aspek, tentu dalam konteks destinasi pariwisata.

Itulah makanya oleh pemerintah membuat lembaga khusus untuk menangani. Membenahi dan mendorong kemajuan kepariwisataan di kawasan itu. Di bentuklah lembaga bernama Badan Otorita Danau Toba alias “Bodat”. Lembaga ini sudah setahun lalu beroperasi. Tapi belum ada hal baru yang dilakukan. Masih sebatas retorika. Rencana toilet umum yang higienis dan modern di berbagai lokasi di sana, pun tak kunjung ada.

Tiba-tiba kita harus tafakur. Danau Toba
Menangis. Cerita horor pun merebak di kaldera supervulkan itu.(***)

Bagikan

Post Comment