Mencari Rimba Ciptaan di “Kepingan Surga”

Foto: batakgaul.com/google

Laporan:Emgeen dari Samosir

Era 80 an. Di atas lereng perbukitan terjal antara Ambarita -Tomok di Pulau Samosir (Sumut). Satu obyek wisata alam terlihat di tengah hamparan hutan yang ditumbuhi pohon pinus. Hamparan hutan itu, lumayan luas.

Menjadi menarik hutan itu karena memiliki keunikan dan bernilai seni. Hutan reboisasi sentuhan tangan-tangan tentara yang kreatif. Dari awal menanam bibitnya, sejumlah pohon direkayasa dan ditanam teratur seperti huruf yang bisa dibaca: Rimba Ciptaan.

Rimba Ciptaan hasil reboisasi yang dilakukan pasukan Tentara Siliwangi sekitar tahun 50 an. Pasukan yang dijuluki Tentara Pusat itu bertahun-tahun di kawasan Toba (dulu masih Kabupaten Tapanuli Utara).
Di tengah misinya bertempur dengan tentara pemberontak PRRI Permesta (sekitar Tahun 50 an terjadi konflik antara Jakarta dengan beberapa daerah), mereka masih sempat-sempatnya melestarikan lingkungan.

Mereboisasi lereng gunung luas yang gundul di sana. Pohon hasil reboisasi itu, setelah besar, menambah indahnya panorama kawasan itu. Berpadu dengan indahnya alam sejati Danau Toba. Ikon pariwisata negeri yang sudah tersohor hingga mancanegara.

Apalagi bila dipandang nun jauh dari kawasan wisata Parapat (Kabupaten Simalungun,Sumut) yang terpaut hamparan danau sekitar 20 Mil laut. Samosir, pada eranya, punya pemandangan khas menjadi ikon tersendiri.

Begitu lama rimba itu bertengger menakjubkan. Menjadi Landmark Danau Toba. Apalagi ketika hamparan pohon pinus itu semakin besar menjulang ke langit. Semakin jelas terbaca huruf-huruf terdiri dari ribuan pohon hutan alami itu.

Andaikan Rimba Ciptaan mampu dipertahankan, hutan hasil reboisasi ini bisa mengalahkan pamor Landmark nya ‘HOLLYWOOD’ yang terpampang di perbukitan (hill) Los Angeles, California.
“HollyWood” yang menjadi ikon pariwisata dan pusat kawasan perfilman di negeri Paman Sam itu terangkai dengan beberapa huruf dan bahan material non alami. Beda dengan Rimba Ciptaan di kawasan “Kepingan Surga” itu (Kawasan Danau Toba dan Samosir dijuluki juga sebagai ‘kepingan surga’ karena keindahan alamnya).

Berkilas balik masa kejayaan kawasan wisata Parapat dan Danau Tobanya pada tahun 70 sd 80 an. Daerah ini pernah kesohor. Era itu, para wisatawan domestik dan manca negara berdecak kagum menyaksikan keunikan alam Danau Toba. Rimba Ciptaan itu. Mereka datang ramai-ramai. Silih berganti.

Akibat positif geliat “boomingnya” kehidupan parawisata, masa itu, ekonomi kawasan itu sekaligus terdongkrak.

Indikator dari perputaran ekonomi yang baik itu, uang banyak beredar di sana. Sangking banyaknya peredaran uang dari kocek pelancong manca negara itu, beberapa bank berskala nasional membuka kantor operasionalnya di Parapat. Ada BNI, BRI dan yang lainnya. Beberapa tempat penukaran uang asing (dolar) alias money changer menggeliat di Prapat.
Hampir semua hotel dan penginapan, kala itu, penuh dengan wisatawan yang didominasi manca negara. Apalagi, bila beberapa kapal pesiar sedang masuk dipelabuhan Belawan. Hampir 15 Tahun masa kejayaan wisata Danau Toba itu. Lalu tiba-tiba redup karena dilanda resesi dunia antara tahun 80 sampai 90 an.

Sekarang kawasan wisata di sini sedang mati suri, bila dibanding dengan masa keemasannya. Juga bila disejajarakan dengan geliat kawasan pariwisata lainnya di Indonesia. Bagian timur Indonesia, apalagi.

Lesapnya Rimba Ciptaan itu beriringan juga dengan merosotnya kunjungan wisatawan ke kawasan ini.
Rimba Ciptaan selain pernah “dilahap” kebakaran, juga akibat keserakahan para ‘perampok’ lingkungan hijau. Mereka tidak menjalankan wajib tebang-tanam. Hutan itu dibabat habis lalu tidak melestarikannya kembali.

Negeri Toba dan sekitarnya yang sangat Indah itu, banyak menyebutnya satu karunia Tuhan yang maha luar biasa. Alam yang tiada tara di jagat. Setiap orang selalu mengaguminya. Itu makanya dijuluki sebagai alam “kepingan surga”.

Kini, kondisi kunjungan wistawannya masih sepi, meski sudah mulai ditangani pemerintah. Penanganan untuk mengupayakan bagaimana daerah ini bisa kembali jaya seperti sedia kala. Sesungguhnya, asa masih membentang di hadapan. Karena potensi kawasan alam di sini sangat menjanjikan. Alamnya ramah dan bersahabat. Juga budayanya, menjual. Itu hampir pasti mampu mengundang kembali para wisatawan, khususnya manca negara. Tentu, selagi dikembangkan dan dikelola dengan baik, kreatif dan konsisten.

Tinggal bagaimana mengajak masyarakatnya, yang memiliki karakter keras itu bisa berubah menjadi masyarakat wisata yang ramah kepada para pendatang alias wisatawan. Masih banyak waktu. Belum terlambat untuk sebuah kemajuan. Mari kita berubah menyambut kebangkitan baru dunia pariwisata Toba yang digerakkan Presiden Jokowi.
Jangan kita serakah merusak alam. Ini lah kekayaan sejati kawasan ini. Jangan sampai alam di sana, satu saat, akan bosan melihat  tingkah laku kita semua, sebagaimana pesan moral dari syair lagu Ebiet G Ade itu.

Wahai pemerintah daerah jangan terlalu banyak retorika. Mari kita kembalikan Landmark alami Danau Toba yang hilang. Rimba Ciptaan kreatifitas manusia satu-satunya di dunia itu. Rimba Ciptaan di “kepingan surga” yang telah hilang.(***)

Bagikan

Post Comment