Mencari Rimba Ciptaan Menuju Zero Keramba di “Kepingan Sorga”

Foto: batakgaul.com/google

Oleh Marganas Nainggolan

Di atas lereng perbukitan Ambarita -Tomok di Pulau Samosir (Sumut), sekitar tahun 70 an. Satu panorama alam dengan sentuhan seni tanam, tampak membentang.

Unik panorama itu. Menambah khazanah pemandangan alam Samosir. Di perbukitan di sana.

“Rimba Ciptaan”. Begitu terbaca dari kejauhan. Wujud dari satu jejeran pohon hasil rekayasa tanam, menjadi deretan huruf.

Awalnya, sejumlah bibit pohon pinus(Casuarina equisetifolia) ditanam di tengah hamparan lereng pebukitan itu. Sekian lama membesar.

Tak diketahui seberapa panjang jejeran pohon yang membentuk huruf itu.

Yang pasti, dipandang dari kejauhan, dari deretan pohon itu terbaca dua kosa kata. Apalagi bila posisi kita nun jauh di kawasan wisata Parapat. Atau percis di tengah danau antara Parapat dengan Tomok. Terbaca jelas huruf-huruf dari pohon itu. Parapat dengan Tomok terpaut dengan hamparan danau sekitar 20 Mil.

Alkisah Rimba Ciptaan hasil semi-reboisasi pasukan Tentara Siliwangi. Pasukan yang dijuluki Tentara Pusat.

Bertahun mereka melakukan operasi militer di kawasan Toba. Kawasan ini, dulu, masuk wilayah Kabupaten Tapanuli Utara. Ibu kotanya Tarutung. Baru belakangan terjadi pemekaran wilayah. Samosir menjadi wilayah Kabupaten.

Di tengah misi tempurnya melawan tentara pemberontak dari daerah:PRRI(Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia).

Saat itu, tentara pusat, sempat-sempatnya dengan kreatifitas mereka melestarikan lingkungan di rimba sana. Menanam massif pohon di lereng gunung luas yang sebagian gundul.

Rimba Ciltaan. Berpadu menambah indahnya alam sejati Danau Toba. Menambah Ikon pariwisata negeri yang sudah tersohor ke mancanegara.

Hampir 15 tahun Rimba Ciptaan itu. Bertengger menjadi ikon Samosir. Menakjubkan. Menjadi Landmark Danau Toba.

Andaikan Rimba Ciptaan itu masih ada, hutan hasil reboisasi ini, bisa mengalahkan pamor ‘HOLLYWOOD’. Landmarknya Los Angeles.

Satu merek yang terpampang di perbukitan (hill) California itu. Materialnya, hanya terbuat dari bahan non alami. Kalah panjangnya dengan Rimba Ciptaan itu. Pun demikian, yang di Amerika kesohor menjadi ikon pariwisata. Apalagi disanalah pusat kawasan perfiliman negeri Paman Sam itu. “Hollywood”, utuh hingga kini.

Kembalikan Kejayaan Toba

Kalau boleh berkilas balik masa kejayaan kawasan wisata Parapat, Samosir dan Danau Tobanya. Era 70 jelang 90 an. Daerah ini pernah “booming” kunjungan wisatawan.

Era itu, para wisatawan domestik dan manca negara, datang silih berganti. Menyaksikan keunikan alam Danau Toba. Mereka berdecak kagum.

Boomingnya geliat parawisata—masa itu, otomatis mengkerek ekonomi kawasan dengan cepat.

Indikator dari perputaran roda ekonomi yang baik itu;uang semakin banyak beredar. Ekonomi kreatif masyarakat pun meriah. Handycraft dan lainnya hidup. Saking lumayan peredaran uang dari kocek pelancong manca negara itu, beberapa bank berskala nasional sempat eksis di Parapat.

Ada BNI, Bank Dagang, BRI dan yang lainnya. Beberapa tempat penukaran uang asing (dolar) alias money changer menggeliat di Parapat.

Hampir semua hotel dan penginapan—kala itu, penuh dengan wisatawan yang didominasi manca negara. Apalagi, bila beberapa kapal pesiar berskala besar, sedang masuk bersandar dipelabuhan Belawan.

Belum lagi yang beramai-ramai dengan penerbangan langsung Amerika dan Eropa ke Bandara Polonia. Pada masa itu penerbangan Indonesia ke dunia barat belum kena banned.

Sisi lain dan hal lucu dari dampak arus wisatawan mancanegara. Lama kelamaan para inang-inang(pedagang kecil) yang sudah berumur, semakin menguasai bahasa Inggris, seadanya. Istilahnya “yes, no”. Mereka pun bisa berinteraksi dengan wisman ditambah bahasa Tarzan.

Belasan tahun masa kejayaan wisata Danau Toba itu. Lalu perlahan redup. Ikut dilanda resesi ekonomi dunia, saat itu. Ekonomi kreatif di sana pun ikut amblas. Ekonomi masyarakat tengkurap. Bank umum tutup. Sekarang, setelah belasan tahun, tinggal BRI saja.

Hampir 20 tahun kawasan wisata Danau Toba bisa dikatakan mati suri.

Disebut mati suri, bila disejajarakan dengan geliat perkembangan kawasan pariwisata lainnya saat itu sampai belakangan ini.
Utamanya di bagian timur Indonesia. Pulau Bali, Lombok dan lainnya. Di sana berkembang, saat musim sepi yang panjang di Danau Toba.

Perampok Hutan

Lesapnya Rimba Ciptaan itu seiring dengan merosotnya kunjungan wisatawan ke kawasan ini. Hingga mati suri tadi.

Sekeliling hutan di seputaran Rimba Ciptaan pernah “dilahap” kebakaran. Tapi tak sampai menghanguskan ikon Samosir itu.

Kemudian pasca kebakaran, pohon-pohon Rimba Ciptaan itu hilang tak berjejak. Dilahap oleh keserakahan manusia. Para “perampok” lingkungan hijau. Mereka tidak menjalankan aturan wajib tebang-tanam. Hutan itu dibabat habis. Sesuka hatinya. Tak melestarikannya kembali.

Bumi “Bangsa” Toba dan sekitarnya memang sangat Indah. Banyak menyebutnya satu karunia Tuhan yang maha luar biasa. Alam yang tiada tara di jagat. Setiap orang selalu mengaguminya. Di zaman now ini, alam di sana dijuluki pula “kepingan surga”.

Kini, kondisi kunjungan wistawannya masih sepi. Tapi, tengah berupaya dibangkitkan.

Perhatian pemerintah pusat sangat besar ke Danau Toba sebagai destinasi wisata nasional.

Badan khusus percepatan kebangkitan pariwisata di sana pun dibentuk. Yakni, Badan Otorita Danau Toba(BODT). Sering dipelesetkan orang menjadi “BODAT”. BODAT adalah nama binatang:Monyet.

Dua tahun belakangan, pihak BODT ini sudah bekerja. Tinggal menunggu hasilnya. Mampukah BODT bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat lokal membangkitkan pariwisata Toba. Paling tidak ke era jayanya?

Industri pariwisata sedang sexy sekarang. Salah satu industri yang dengan cepat bisa meraup devisa negara. Melebihi hasil dari industri eksploitasi minyak bumi.

Bagi kawasan pariwisata Toba, sesungguhnya, asa masih membentang di hadapan. Potensi panorama di sini sangat menjanjikan. Meski sebagian alam sudah dirusak orang-orang jahil.

Alamnya yang indah dan ramah. Budayanya yang spesifik dan unik:menjual. Itu semua hampir pasti mampu mengundang kembali para wisatawan, khususnya manca negara.

Tentu, semua itu bisa berjalan kalau dikembangkan dan dikelola secara baik dan serius. Dilaksanakan secara profesional, kreatif, inovatif dan konsisten.

Mengajak masyarakatnya, yang berkarakter keras itu. Berubah menjadi masyarakat wisata yang ramah. Ramah kepada para pendatang. Terlebih membangun kultur lisannya.

Masyarakat Pelaku ekonomi hendaknya kreatif dan inovatif melakukan berbagai aktivitasnya. Sebagai bagian dari konten pariwisata itu.

Masih banyak waktu. Belum terlambat. Untuk satu kemajuan. Mari kita berubah menyambut kebangkitan baru dunia pariwisata Toba yang digerakkan Presiden Jokowi.

Jangan kita serakah merusak alam. Danau Toba dengan air tawarnya yang jernih dan biru. Lestarikanlah.

Jangan sengaja dicemari dengan limbah kotor apalagi limbah berbahaya. Misalnya, limbah dari ekses pakan ikan keramba yang ditabur setiap hari ke Danau Toba. Berton-ton jumlahnya. Bertahun-tahun lamanya. Dipermasalahkan terus oleh pemerhati lingkungan hidup.

Mari kita dukung upaya pemerintah merevitalisasi kawasan alam di sana. Upaya menjadikan Danau Toba:Zero Keramba. Menjadikan alam danau back to basic. Back to nature. Sebagaimana telah dikampanyekan Bupati Samosir Rapidin Simbolon baru-baru ini.

Selain itu, mari kita kemas destinasi wisata yang sudah ada. Ciptakan landmark Pariwisata Danau Toba yang baru dan menarik. Kalau boleh, paling tidak seperti mengembalikan Rimba Ciptaan di “kepingan surga”. Ini lah aset alam sejati kawasan ini. Warisan anak-cucu negeri Toba ke depan.

Ayo kita rawat bersama. Kalau tidak, jangan sampai alam di sana—satu saat, akan bosan melihat  tingkah laku kita semua. Sebagaimana pesan moral dari syair lagu Ebiet G Ade itu.(***)

Bagikan

Post Comment