Mengapa DPRD Batam Bungkam?

Oleh: Nohoks
Ilustrasi (Foto:khabar.net)

Untung saja pihak Polresta Barelang cepat bertindak mengelaborasi keresahan warganya di tengah bungkamnya DPRD Kota Batam atas kasus tari erotis yang menghebohkan itu.

Kalau tidak, bisa jadi situasi makin keruh diusik tindakan tarian tak beradab di Engku Putri, Sabtu(14/4) itu.

Situasi terelaborasi karena polisi telah menangkap dan mengkerangkeng lima tersangkanya. Pun penanganan masih terus digesa polisi sembari penyidik menyigi pelaku lain yang diduga turut-serta.

Meski begitu, bukan berarti suasana riuh di tengah masyarakat serta-merta meredup.
Berbagai pihak belum dapat menerima penyelesaian kasus ini berhenti pada aspek penegakan hukumnya saja.

Ekses dari kasus ini memang berdimensi luas, ibarat penjuru mata angin. Sehingga penegakan atas nilai-nilai lainnya dalam balutan kasus ini, harus segera dipertanggungjawabkan oleh siapapun.

Kasus ini harus dilihat secara utuh dan jernih. Lalu dituntaskan dengan secara kongkrit dan transparan.

Penanganannnya pun mesti melibatkan institusi formal lainnya di luar aparat penegakan hukum. Ini muaranya kepada proses penyelesaian yang kondusif, damai dan berkeadilan menyangkut pertanggungjawaban terhadap nilai-nilai yang dilanggar pada pagelaran tarian tak bermarwah itu.

Banyak pertanyaan yang tersisa terhadap berbagai hal yang menyalahi dalam rangkaian acara PMR ini

Misalnya, penggunaan fasilitas pemerintah oleh PMR sebagai tindakan tak akuntabel. Lalu siapa yang bertangungjawab.

Ekses lain bahwa pelantikan PMR di Kantor Pemko telah menimbulkan ketidakadilan dan kecemburuan sosial bagi Ormas dan LSM lain yang ratusan jumlahnya di Kota Batam.

Juga soal sumber pendanaan kegiatan PMR. Proses pelantikan dengan sisipan tarian “Sexy Bike Wash” yang sempena dengan hari keagamaan itu.

Kalau, misalnya, benar anggaran dananya tak melibatkan kas Pemko Batam, tentu tak ada kesah. Andaikan tidak, ini menambah masalah.

Belum lagi pertanyaan dan saran perlu diadakannya Sidang Adat oleh Lembaga Adat Melayu (LAM) di sini. Sidang Adat bagi pihak-pihak yang diduga melakukan tindakan mencoreng marwah dan nilai-nilai adat Bumi Lancang Kuning ini.

Pertanyaan-pertanyaan atas kasus non KUHP inilah yang masih tersisa.
Semakin ribut karena Rudi tak segera berinisiatif tampil ke publik menjelaskan hal ikhwal masalahnya.

DPRD pun tak kunjung memanggil Rudi secara formal ke Gedung Dewan melakukan tabayun atas pertanyaan publik itu.

Hak memanggil tentu bagian dari tugas dan tanggungjawab formal oleh 50 anggota legislatif secara kelembagaan dari “Senayan” nya Batam Center itu.

Ini akan menjadi satu solusi yang relatif adil. Ruang yang tepat dan bermartabat bagi Rudi untuk menjelaskan keberadaan dan masalah yang muncul dalam rangkaian acara PMR itu.

Dan, juga bagi para pihak yang disebut-sebut namanya dalam balutan kejadian tak senonoh itu, forum terhormat ini menjadi wadah yang bisa memberi klarifikasi obyektif.

DPRD Kota Batam tak boleh membiarkan masalah ini mengantung tak tentu arah. Para anggota legislatif Batam harus menyelesaikan masalah ini dengan cepat pada koridor yang benar dan terbuka.

Tidak pada ruang pertemuan tertutup seperti Rabu (18/4) dengan diplomasi politik “bisik-bisik” itu. Pertemuan yang tak bisa diliput media atas momen kedatangan Rudi ke gedung dewan menemui anggota DPRD itu, entah membicarakan apa?

Situasi dan kondisi seperti ini tak elok di pertontonkan di tengah kebatinan masyarakat yang tengah terusik. Sikap dewan seperti ini bisa blunder lalu dituding melakukan “penghianatan” kepada rakyat.

Kalaulah hak memanggil ini bisa dilaksanakan DPRD dan berjalan lancar, permasalahan bisa terurai dan sekaligus menepis tudingan bungkamnya DPRD.

Upaya cerdas seperti ini juga akan menampik tudingan bahwa para anggota dewan yang terhormat itu tidak memiliki kualitas visi yang mumpuni duduk di sana mewakili rakyat.

Sekaligus juga menjadi jawaban atas stigma klasik yang dituduhkan selama ini sebagaimana lirik lagu Iwan Fals bahwa kerja anggota dewan: datang, duduk, dengar, diam dan duit.***

Bagikan

Post Comment