Ruang Wakil Ketua Dewan Masih Bau Amis?

Ilustrasi (Foto:google)

Batamupdate.com

Kita khawatir, ruang kerja Wakil Ketua(Waka) I DPRD Batam Zainal Abidin—  yang tercemar limbah manusia terbalut tisu itu, masih bau amis.

Jangan-jangan udara di ruangan sang waka pun, masih beraroma tak sedap yang sempat kena ceceran kertas tisu basah kental itu. Tak sedap, bisa jadi karena belum dibersihkan sebersihnya.

Sebab, dua perempuan staf honor sang waka pun sudah diberhentikan dari tugasnya. Bisa jadi selama ini, keduanya selalu menemani para cleaning service membersikan ruang kerja Zainal, sehari-harinya. Dua perempuan, yang juga sekaligus sebagai sumber “limbah” itu.

Demikian juga dengan sosok Zainal  yang di mata publik selama ini adalah sosok tak bercela. Nama baik kader Golkar itu, kini, tengah dipertaruhkan sebagai dampak “percikan” kasus lend*r itu. Tak hanya Zainal, bau amis itu seolah menusuk rongga hidung  masyarakat di sini akibat dugaan perbuatan asusila itu.

Kasus itu memang belum dipertanggungjawabkan Zainal secara transparan ke publik. Ini masalahnya. Baik pertanggungjawaban secara etika dan moral. Terlebih oleh para pelaku. Mereka bisa terkena sanksi hukum atas aksi bejatnya. Kasus asusila itu, tampak,  masih berbalut misteri.

Itulah sebabnya, berbagai kelompok LSM di Batam yang dimotori oleh Garda Indonesia(GI) masih melakukan gerakan moral secara gencar. Tak henti, karena masyarakat Batam tertempeleng atas kejadian “berbecek” itu.

Selain gerakan moral, kasus ini juga sudah dilaporkan ke Polresta Barelang.  Dua hari lalu. Oleh GI. Ini bagian dari upaya hukum oleh masyarakat. Meski laporan itu masih dipertimbangkan polisi untuk proses selanjutnya.

Gerakan moral lain yang dilakukan GI adalah memblowup kasus ini di media sosial. Mengukur respon publik. Demikian juga di beberapa media online. Respon masyarakat hampir merata: meminta pertanggungjawaban moral dan etik atas kejadian skandal seks ala gedung dewan ini. Masyarakat Batam merasa dinista.

Dalam waktu dekat, sesuai monitoring di medsos sampai pagi ini, GI dan elemen masyarakat lainnnya akan melakukan unjuk rasa ke kantor DPRD Kota Batam. Tujuannya, agar “selubung hitam” kasus ini segera disingkap. Kasus yang menghina dan melecehkan masyarakat Batam ini, supaya dibeber dan dipertanggungjawabkan sesegera mungkin.

Apa yang diperjuangkan oleh GI dan LSM lainnya, yang peduli dengan kasus asusila di gedung rakyat ini, sangatlah  benar.

Bahwa kejadian di gedung dewan itu,  bukan masalah sepele, banyak pihak sependapat. Dan, bahwa kasus asusila di ruang Zainal itu adalah bukan masalah BIASA, itu dibenarkan publik. Kecuali(mungkin) bagi para anggota dewan. Bisa saja sebaliknya.

Masyarakat banyak di Batam, menghujat pelaku  sex party (pesta sek dilakukan lebih dari dua orang di dalam satu bilik). Mereka juga menyalahkan para anggota dewan yang 50 an jumlahnya di sana. Para wakil rakyat itu dituding seolah tak bermoral lagi karena sikap diamnya atas kasus ini. Dewan yang masih bermoral baik pun, terkenah getahnya. Di medsos masih ramai masalah ini di bahas alias viral. Masyarakat meminta pertanggungjawaban akan kejadian  memalukan ini.

Meski dihujat publik, baik Zainal,  maupun para anggota dewan yang dipilih masyarakat Batam itu benar- benar bergeming alias diam seribu bahasa. Tak salah memang bila Iwan Fals dalam lirik lagu ciptaannya menuduh perangai para dewan yang kerjanya banyak diam. Meski sebenarnya hanya seolah diam.

Sungguh kadar emosi masyarakat banyak,  maupun LSM GI dan yang lainnya tak tertahankan lagi melihat kasus ini mengambang. Masyarakat jua sudah mendesak pihak dewan  memanggil empat pelaku skandal ranjang Zainal itu. Harus dimintai pertanggungjawabannya secara kongkrit.

Dua pelaku yang teman karib Zainal, sebagai sumber masalah tak senonoh itu. Disebut-sebut masih berstatus anggota dewan Kabupaten Kampar, Riau.

Merekalah yang utama sumber  masalahnya. Usai diduga melampiaskan aksi bejatnya di ruangan sang waka. Sehabis “menunaikan” nafsu birahinya di kasur yang ada di bilik kerja pak dewan, Zainal hanya bersuara tak membahana. Ibarat membela diri, karena kadung terbongkar oleh si cleaning servis.

Sementara para sohibnya itu, entah bagaimana ceritanya, justru dibiarkan  pergi melenggang. Berlalu meninggalkan sampah “berbecek” di ruang kerja waka  sendiri. Jangan-jangan pula, kepergian temannya itu difasilitasi dengan baik. Atau diminta cepat ngacir. Apalagi santer, Zainal kemungkinan mencalonkan diri menjadi Bupati Kampar.

Sementara itu, dua staf perempuan yang selama ini bekerja di ruangan Zainal,  harus juga dimintai  pertanggjawaban. Mestinya dibuka ke publik:siapa sebenarnya sosok dua staf honor itu. Apa sesungguhnya perkerjaan mereka selama ini di ruang kerja sang waka. Rekrutmen dari mana tadinya  kedua perempuan itu. Jangan-jangan pula mereka berdua experience di bidang tertentu?

Hal itu sangat perlu. Kelakuan bejat mereka jangan sampai merembet,  mengusik keberadaan para perempuan lain, staf para dewan di sana.

Pertanyaan yang masih relevan. Pertanyaan yang masih belum terjawab. Karena kedua perempuan itu, faktanya, menerima saja dia diskors. Artinya juga,  mereka mengakui perbuatannya. Sinonimnya lagi, mereka melakukan asusila di terang  hari itu: suka-sama mau? Seolah tak ada masalah. Berbau komersil kah?

Semua itu perlu dilakukan interogasi. Masyarakat tidak menerima begitu saja kasus ini berlalu. Dibiarkan apalagi.

Para anggota dewan, terutama  Pak Ketua besutan PDI Perjuangan itu, mesti menjawab apa yang sedang ramai digunjingkan publik, kini. Kita yakin sang ketua masih ada urat malunya, khusus atas kejadian memalukan ini. Sang Ketua mestinya tak mengelak. Apalagi bergeming. Sebagai “nakhoda ” dewan, seyogianya harus di depan mempertanggungjawabkan ke publik. Jangan sampai muncul kesan saling melindungi sesama dewan.

Kalau tidak—sampai kapan pun, masyarakat pasti tidak rela atau tak sudi  kalau gedung mereka yang diamanatkan sementara ke para dewan— dijadikan “rumah bordil”. Paling tidak di ruangan sang waka. Paling tidak oleh empat pelaku. Kalau-kalau tak ada lagi yang lain ?
(Redaksi)

Bagikan

Post Comment