Sekali Lagi Pak Gubernur Lihatlah Nasib Penumpang Pelni di Batam ini

Penumpang Kapal Kelud turun di Pelabuhan Batuampar, Senin 2 Juli 2018. Foto:Ist/Batamupdate.com

Batam– Kita tidak habis pikir ketika Gubernur Kepri Nurdin Basirun bermimpi membangun jembatan Batam-Bintan(Babin) dengan rancangan anggaran biaya puluhan Triliun.

Belum lagi mimpinya tentang Pelabuhan Kontiner modern di Tanjung Sauh(Batam) yang dicibir pemerintah Singapura itu. Apalagi mimpi siang bolongnya tentang terowongan bawah laut yang menghubungkan Kukup di Malaysia ke Karimun, yang ibarat pungguk merindukan bulan itu.

Sementara fakta kontras sehari-hari yang membuat kita miris, tampaknya tak pernah terpikir oleh Nurdin. Lihatlah kondisi penumpang kapal Pelni yang keluar-masuk Batam. Sangat memprihatinkan di era modern ini.

Deskripsi faktanya begini:

1.Batam tidak memilik terminal penumpang untuk kapal Pelni.

2.Penumpang yang keluar masuk dari dan ke Batam mencapai ribuan orang sekali angkut. Apa lagi di hari-hari besar atau pada masa liburan.

Foto:ist/Batamupdate.com

3.Karena tidak memiliki terminal penumpang yang memadai maka para penumpang yang hendak berangkat, maupun yang turun ke Batam, merasa resah. Nyaris tak ada kenyamanan dan harus ekstra pengamanan.

4.Penumpang tidak mendapat layanan yang standar. Misalnya, ruang tunggu yang nyaman sebagaimana pelabuhan modern lainnya di Indonesia.

5.Kondisi Pelabuhan Kargo Batu Ampar, pelabuhan sementara PT Pelni membuat para penumpang harus berjalan kaki sejauh 1 Km ke tempat parkir darurat kendaraan. Jalan berlumpur kalau musim hujan dan berdebu di kala kemarau.

6.Belum lagi lalu-lalang kendaraan di tengah kerumunan penumpang yang berjalan kaki menuju kendaraannya masing-masing diparkiran darurat.

7. Beberapa anggota Ditpam BP Kawasan yang bertugas di pelabuhan menyamakan kondisi ini pada zaman kolonial yang mengeksploitasi manusia untuk kepentingan sang penjajah.

8.Akibat ini semua, hampir dipastikan muncul biaya tambahan para penumpang untuk ongkos angkut barangnya oleh porter.

9.Tak ada kepastian dari pemerintah, sampai kapan kondisi ini menerpa rakyat Batam khususnya yang keluar masuk Batam lewat Kapal Pelni.

10.Sejumlah Pelabuhan antarpulau di Batam , milik swasta sekalipun, hampir seluruhnya sudah standar pelabuhan berperingkat nyaman dan aman bagi penumpang. Semua punya terminal mewah dan ber AC.

Melihat dari fakta-fakta di atas kita sangat heran atas semua kebijakan pemerintah baik, Pemerintah Kota Batam, Provinsi Kepri, BP Kawasan terkhusus BUMN .

Belum lama ini, Menteri Perhubungan Jhonan sudah melihat fakta lapangan ini. Sang Menterilah yang memerintahkan agar operasional kapal penumpang Pelni dipindahkan dari Pelabuhan Beton Sekupang ke Batu Ampar. Baik semasa di Sekupang baik di Batu Ampar kondisinya sama saja. Sifatnya darurat.

Batam kawasan modern. Awalnya dirancang menjadi kota industri modern di Asia Pasifik. Tapi pelabuhan atau Terminal Penumpang yang mumpuni selama belasan tahun tak kunjung ada.

Sementara Gubernur dari rakyat yang “sengsara” di pelabuhan ini tengah memimpikan jembatan dan terminal kargo prestisius, disaat pelabuhan penumpangnya sangat merana. (omrad)

Bagikan

Post Comment