Tentang KEK Semua Kikuk, Jokowi Juga

Salah satu Ikon Kota Batam (Foto:weekendGoWhere)

Oleh Nohoks

Selamat pagi Batam
URUSAN transformasi FTZ ke KEK di Batam , tampaknya, para pengambil keputusan pada KIKUK.

Mulai dari Presiden Jokowi, Menteri sampai ke jajaran terbawahnya.

Simak berita media cetak terbitan Batam hari ini.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bapelitbangda) Batam Wan Darussalam mengatakan bahwa Presiden Jokowi sudah memerintahkan agar segera mengakhiri dualisme kewenangan di Batam. Caranya:ubah FTZ menjadi KEK.

Perintah Jokowi itu kata Wan disampaikan pada saat rapat terbatas (ratas). Ditegaskan selain perintah mengubah FTZ ke KEK, rancangan Peraturan Pemerintah(PP) pembentukan KEK segera dibuat.

Tahu anda kapan perintah itu “dimaklumatkan” Jokowi? Menurut Wan- Jokowi menyampaikannya pada ratas 19 Januari 2016 dan ratas 30 Maret 2017.

Bayangkan dalam setahun perintah Jokowi tak dieksekusi. Di ratas selanjutnya masih itu lagi yang di bahas. Oleh Jokowi juga. Tentang FTZ yang tak diubah ke KEK. Hingga sekarang tak dieksekusi juga. Kikuk kan?

Hari ini pun Wan menyampaikan ke kikukannya itu ke media. Catat. Hari ini sudah tanggal 11 Mei 2018. Artinya sejak ratas, dua setengah tahun sampai sekarang, KEK tak kunjung jadi.

Masing-masing kita menghitung. Waktu terbuang sia-sia. Energi terkuras mubazir entah kemana.

Padahal lagi-semua kebijakan para petinggi negeri ini seyogianya bisa berjalan cepat dan tepat sebagai siasat mengejar perbaikan perekonomian yang sedang lesu.

Selain Jokowi, para menteri negara entah sudah berapa yang hilir-mudik ke Batam.
Semua datang beretorika. Soal teori, gambaran masa depan ekonomi kawasan ini.

Mereka kikuk juga ternyata. Retorika. Lagu lama. Batam sudah 40 tahun dijamah. Hasilnya sangat jauh dari yang didesain awal. Juga bila dibandingkan dengan dana yang sudah tersedot. KPK mestinya meneropong segera, sebelum FTZ wassalam. Termasuk dana yang terkuras seputaran wacana mengubah FTZ ke KEK. Kikuk kan?

Ada lagi kekikukan baru. Ini bila menyimak pernyataan Wan di media pagi ini. Penerapan KEK Batam tidak otomatis menghapus fasilitas FTZ. Itu kata Wan.

Dia tegaskan bahwa pengusaha di luar wilayah KEK akan tetap diberi kemudahan fasilitas FTZ, seperti biasa.

Apa artinya? FTZ tetap exsisting alias masih hidup. Begitu pak Wan?

Padahal tadi disebut, untuk mengakhiri dualisme kewenangan antara BP Kawasan dengan Pemko Batam, KEK lah obat penawarnya. FTZ masa lalu. Karena terlalu lama lelap dipusaran FTZ. Tak maju-maju. Kata Jokowi. Mana yang betul pak Wan? Kikuk juga kayaknya?

Demikianlah negeri ini dikelola. Semua pandai soal lekuk-lekuk KEK yang baru dilakoni ini. Para pengurus negeri ini lelap di tengah ego masing-masing. Semua punya agenda dan kepentingan tersendiri. Ekonomi rakyat kelimpungan. Kepercayaan rakyat semakin hilang. KEK tak kunjung datang. Masih tak terima disebut Kikuk? Terlaluuu….(*)

Bagikan

Post Comment