Friday, April 12, 2024
HomeInternasionalPrabowo Unggul versi Quick Count, Berikut Prediksi Pakar Asing soal RI

Prabowo Unggul versi Quick Count, Berikut Prediksi Pakar Asing soal RI

Jakarta, CNN Indonesia

Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka unggul dari dua paslon lainnya berdasarkan quick count (perhitungan cepat) beberapa lembaga survei.

Berdasarkan hitung cepat Litbang Kompas pada Rabu (14/2) per 17.22 WIB, Prabowo dan Gibran unggul dengan 58,73 persen dari 77,90 persen suara yang masuk.

Sementara itu, paslon nomor urut 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar meraih 25,31 persen suara, dan paslon nomor urut 3 Ganjar Pranowo-Mahfud MD memperoleh 15,95 persen suara.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keunggulan untuk Prabowo dan Gibran juga terlihat dari perhitungan cepat Charta Politika 57,72 persen darn 78,05 persen suara yang masuk, serta LSI dengan 57,26 persen dari 70,6 suara yang masuk.

Pengamat kajian politik dan keamanan internasional dari Universitas Murdoch, Ian Wilson, sempat memprediksi masa depan Indonesia jika Prabowo Subianto menang di pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

BACA JUGA:   Zulhas Ajak Masyarakat Gagalkan Stunting dengan Gizi Seimbang

[Gambas:Video CNN]

Pendapat dia dituliskan dalam opini bertajuk “An election to end all election?” yang dirilis di situs Fulcrum pada Selasa (30/1). Situs ini terafiliasi dengan lembaga think tank ISEAS, Yusof Ishak Institute.

“Di masa kepresidenan Prabowo, mungkin terdapat perluasan pendekatan pemerintahan yang ‘tanpa oposisi’, yang dibingkai oleh kiasan nasionalis yang menjaga persatuan,” kata dia.

Koalisi Indonesia Maju mengusung Prabowo-Gibran menjadi pasangan calon capres-cawapres di pilpres kali ini. Partai yang tergabung di koalisi ini yakni Gerindra, Golkar, Demokrat, PSI, PAN, PBB, dan Partai Gelora.

Terlebih lagi, Prabowo pernah mengatakan ingin melibatkan “semua pihak” mana pun dalam pemerintahan di masa depan.

Pemerintahan tanpa oposisi sudah pernah terjadi di era Jokowi. Petahana itu mengangkat Prabowo, yang sebelumnya menjadi lawan di Pilpres 2019, menjadi menteri pertahanan.

Langkah itu, lanjut Wilson, untuk menghilangkan oposisi di parlemen dan membatasi muncul basis kekuatan yang saling bersaing.

BACA JUGA:   Balas Ucapan Anies soal Etika, TKN Prabowo-Gibran Ingatkan Batalnya AHY Jadi Cawapres

Kondisi tersebut tak ditunjukkan secara terang-terangan, tetapi melalui koalisi dan negosiasi antarelite.

Wilson menilai dalam skenario semacam itu proses inti demokrasi seperti pemilu bisa dipertahankan, meski dalam skala yang lebih kecil.

“Namun, potensi untuk menghasilkan perubahan substantif sebagian besar hilang,” ungkap dia.

Bersambung ke halaman berikutnya…




Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER