Friday, June 21, 2024
HomeNasionalBerjuang di Sentra Buku Legendaris Kwitang Saat Dikepung Era Digital

Berjuang di Sentra Buku Legendaris Kwitang Saat Dikepung Era Digital

Jakarta, CNN Indonesia

Papan plang jalan tegak dengan tulisan Jalan HB Alhabsyi Kwitang tegak berdiri di persimpangan seberang Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Kala CNNIndonesia.com berjalan masuk ke area tersebut dari arah Jalan Kramat Raya pada Rabu (5/6) siang menjelang sore, terlihat sejumlah pelapak yang memajang buku-buku di pinggiran trotoar. Walaupun buku-buku itu terlihat sudah sedikit usang namun beberapa disampul rapi oleh pedagang yang menjajakannya.

“Sini, lihat dulu aja, nyari buku apa? Novel? Ini banyak yang baru-baru,” ujar salah satu pelapak mencoba menawarkan buku yang dia pajang di trotoar tersebut.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain di trotoar, ada pula pedagang buku yang menempati bangunan di lokasi tersebut. Di sebuah bangunan tiga lantai yang terlihat dari luar sebagai toko buku karena barang-barang yang terpajang di sana.

Buku-buku itu terlihat bertumpuk hingga hampir menyentuh langit-langit, dan ada juga yang disimpan pada rak-rak kayu.

Itulah area yang menjadi sisa-sisa dari sentra buku legendaris Kwitang di kawasan Jakarta Pusat tersebut. Sentra buku yang semula dipenuhi lebih banyak pelapak itu sudah ada sejak 1980an, dan kemudian ditertibkan pemerintah pada akhir dasawarsa 2000an hingga dekade 2010an silam.

BACA JUGA:   Sepedaan di Yogyakarta, Ganjar Pranowo Tak Hadiri Penetapan Prabowo-Gibran

Sentra buku ini menjadi tempat warga Jakarta–bahkan sekitarnya untuk mencari buku di masa jayanya. Area pasar buku Kwitang itu kemudian makin dikenal ketika masuk ke dalam film fenomenal Ada Apa Dengan Cinta (AADC) (2002) yang dibintangi Nicholas Saputra (Rangga) dan Dian Sastrowardoyo (Cinta).

Kini para pelapak dari Kwitang itu tersebar ke sejumlah titik lain di Jakarta dari mulai Senen hingga Blok M di Jakarta Selatan. 




Pedagang melayani warga. yang mencari buku di Kwitang, Jakarta Pusat, Rabu (5/6). (CNN Indonesia/ Rachel Tesalonika)

Kwitang sebelumnya dikenal legendaris, karena tak hanya menjual buku-buku produksi baru ataupun bekas, juga menjadi ‘peti harta karun’ bagi mereka yang mencari buku yang sudah langka. Topik buku yang tersedia di sana juga sangat beragam dari mulai tentang politik, sastra, ekonomi, hingga buku anak-anak. Demikian pula dengan latar belakang pengunjung yakni dari mulai mahasiswa, dosen, bahkan hingga dari mancanegara.

Namun itu adalah kisah legendaris tentang Kwitang, yang kini terbilang sepi dibanding masa jayanya.

Salah satu pelapak di Kwitang saat ini, Jay (53), mengatakan ketika pemerintah memutuskan menertibkan wilayah tersebut, para pedagang yang sudah bertahun-tahun di sana pun berpencar-pencar karena pindah atau direlokasi.

Dia yang sudah berjualan buku sejak 1997 silam menceritakan kenangannya di masa jaya Kwitang, apalagi saat tahun ajaran baru.

“Berjualan di tahun 97 itu ya memang cukup indah, kenangan. Sampai-sampai disini dibikin film Ada Apa Dengan Cinta,” kenang Jay saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

“Tahun ’97 itu jayanya luar biasa memang, sampai kita enggak sempat makan siang. Karena begini, pertama, setiap tamat sekolah, setiap waktu sekolah Kelas 1, kelas 2 cari buku. Kelas 2, kelas 3 cari buku. Kemudian yang tamat mau masuk Perguruan tinggi setelah magang, pasti akan cari buku, akan kemari, biasanya membludak. [Pembeli datang] dari area Jabodetabek, makanya kami tetap bertahan,” tambahnya.

‘Sangat jauh sekali berubah’ merupakan kalimat yang digambarkan oleh Bang Jay ketika diminta untuk membandingkan kondisi 20 tahun yang lalu dengan saat ini. Sekalipun masih saja ada pencari buku yang datang ke Kwitang, dia mengatakan tingkat keramaiannya tak seperti dahulu.

“Itu zamannya. Kalau dampak, ya pasti ke kita seperti yang Mbak lihat sendiri lah, pembeli jarang tuh. Kalau dulu sampai ngobrol sana, ngobrol sini,” kata dia yang oleh orang-orang sekitar disapa Bang Jay tersebut.




Tampak depan ruko tempat para pedagang Kwitang yang tersisa berkumpulSalah satu bangunan ruko yang disewa oleh sejumlah pelapak buku di Kwitang, Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/ Rachel Tesalonika)

Meskipun sekarang tak seperti dulu, Jay mengatakan masih tetap saja ada pembeli–terutama mahasiswa–yang datang untuk mencari buku ke Kwitang.

Salah satunya adalah Risa (21), seorang mahasiswi dari Depok yang mengaku sengaja untuk datang mencari buku bekas ke Kwitang.

“Iya, cari buku manajemen buat tugas. Tadinya ke Jatinegara, tapi enggak nemu, akhirnya kesini,” ujar Risa.

Perempuan tersebut mengaku tahu Kwitang sudah lama. Informasi tentang Kwitang itu pun dia dapatkan dari orangtua hingga dosen-dosennya.

Di tengah digitalisasi yang tinggi, di mana literatur digital mudah didapatkan di jagat maya ke gawai di tangan, Risa mengaku sengaja mencari buku cetak atau buku fisik.

“Menurut aku tetap penting ya, walaupun ada online sekarang tapi kan tetap butuh buku cetak. Kadang lebih gampangan baca buku cetak daripada yang online. Terus nggak perlu nunggu lama kalau beli di [toko online], ini dateng, beli, langsung di tangan,” jelasnya.

Buka halaman selanjutnya.




Source link

BERITA TERKAIT
spot_img

BERITA POPULER