Thursday, February 26, 2026
HomeHiburanSNF Kembangkan Riset Biaya Film Berbasis Web3 dan Investasi

SNF Kembangkan Riset Biaya Film Berbasis Web3 dan Investasi

AGENSI pemasaran film berbasis riset, Suka Nonton Film (SNF) menyoroti tingginya risiko finansial produksi film yang masih sangat bergantung pada tiket bioskop. Ketergantungan ini dinilai semakin berisiko di tengah perubahan preferensi penonton dan dominasi judul-judul besar dengan modal promosi yang kuat.

“Sebagai bagian dari Widarin Travel, kami memosisikan SNF sebagai unit riset yang mencoba membaca ulang risiko industri film. Bukan hanya dari sisi kreatif, tetapi juga dari struktur pembiayaan dan strategi sejak tahap awal,” ujar perwakilan SNF Harzard Fahdio Syahranu.

Riset tersebut juga mengeksplorasi pemanfaatan teknologi digital, termasuk blockchain dan Web3, sebagai alternatif pendekatan pembiayaan dan distribusi nilai ekonomi film. Teknologi ini dikaji untuk menciptakan sistem yang lebih transparan dan terukur, sehingga potensi ekonomi film dapat mulai dibangun sebelum penayangan di bioskop. Kajian ini masih berada pada tahap pengembangan dan simulasi model.

Sebelumnya, di tengah meningkatnya biaya produksi dan ketatnya persaingan layar bioskop, industri film Indonesia masih menghadapi persoalan yang berulang. Film dengan kualitas cerita dan teknis yang baik tidak selalu berbanding lurus dengan capaian penonton. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah film kian dipengaruhi oleh faktor di luar kualitas artistik semata.

BACA JUGA:   Unit Baru Seventeen: Hoshi dan Woozi akan Debut dengan Album Beam

Perubahan perilaku audiens, fragmentasi saluran distribusi, serta tekanan komersial membuat film tidak lagi bisa sepenuhnya bergantung pada performa box office. Situasi ini mendorong perlunya pendekatan yang lebih komprehensif sejak tahap awal produksi, terutama dalam membaca risiko dan keberlanjutan proyek film.

SNF menilai persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kreativitas, tetapi juga dengan struktur pembiayaan dan strategi yang disusun sejak pra-produksi. SNF melihat banyak proyek film berada pada posisi rentan akibat minimnya perencanaan berbasis data.

SNF mencoba memberikan sudut pandang lintas sektor, khususnya terkait pengalaman audiens dan pola konsumsi hiburan. Sinergi antara film dan pariwisata dipandang sebagai peluang untuk memperluas fungsi film, tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai bagian dari narasi dan pengalaman destinasi. “Widarin melihat film sebagai bagian dari ekosistem pengalaman. Karena itu, riset yang dikembangkan SNF kami dorong agar relevan dengan perubahan perilaku pasar dan audiens,” kata perwakilan Widarin Travel Tegar Syahranu.

Melalui pendekatan riset ini, SNF berharap diskursus industri film dapat bergeser dari sekadar pembahasan kualitas karya, menuju perbincangan yang lebih luas tentang keberlanjutan model bisnis dan mitigasi risiko produksi di tengah dinamika pasar yang terus berubah.

BACA JUGA:   DJ Panda Penuhi Panggilan Polisi soal Kasus Pengancaman Erika Carlina

Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER