Saturday, April 25, 2026
HomeHiburanPameran Uang Kuno dan Lampu di Museum Nasional Indonesia

Pameran Uang Kuno dan Lampu di Museum Nasional Indonesia

Museum Nasional Indonesia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-248 pada Jumat, 24 April 2026. Untuk merayakan ulang tahun tersebut, Museum Nasional menggelar dua pameran baru yakni Pameran Numismatik dan Pendar dan serangkaian acara yang digelar untuk publik.

Kepala Museum dan Cagar Budaya (MCB) Indira Estiyanti Nurjadin saat konferensi pers, menjelaskan pameran ini mengakomodasi pertanyaan tentang koleksi mata uang dari Museum Nasional Indonesia. “Karena dulu pernah dipamerkan, banyak yang menanyakan. Inilah kesempatan kami untuk tampilkan kembali,” ujar Estiyanti di Museum Nasional Indonesia pada Jumat, 24 April 2026. Para kurator harus memilih dari ribuan koleksi yang dimiliki dari berbagai periode dan menampilkan di ruang yang terbatas .

Uang Kuno dari Berbagai Kerajaan Hingga Berdirinya Indonesia

Pameran Numismatik memamerkan ratusan koleksi mata uang atau alat tukar yang dimiliki Museum Nasional Indonesia dari berbagai zaman. Koleksi uang logam dari emas, perak, perunggu, kain, kertas atau semacam surat berharga dipamerkan di Gedung A lantai 2 . Pengunjung bisa mengetahui jenis-jenis mata uang atau alat tukar yang dipakai oleh nenek moyang sejak dulu, salah satunya mata uang emas di zaman Dinasti Syailendra. Mata uang atau alat tukar lainnya pada era kerajaan-kerajaan seperti dari Kerajaan Majapahit yang disebut uang kepeng, uang bobok. “Karena ada gambar wayang disebut uang bobok wayang,” ujar Fifia Wardani, kurator yang menjelaskan kepada para jurnaIis pada Jumat, 24 April 2026.

BACA JUGA:   Menjelang Ajal Tayang, Ini Deretan Film Horor Karya Hadrah Daeng Ratu

Ragam koleksi mata uang kuno dari berbagai era di Nusantara pada Pameran Numismatik, Museum Nasional Indonesia, Jakarta, 24 April 2026. Tempo/Dian Yuliastuti

Ada juga uang-uang logam dari era kerajaan Islam di Sumatera seperti di Samudera Pasai dan kerajaan Aceh lainnya. Yang unik juga ada uang kampua dari Kerajaan di Buton yang terbuat dari tenun dengan motif tertentu berukuran 17 centimeter. “Pembuatannya diawasi oleh seorang menteri, untuk menghindari pemalsuan setiap waktu tertentu motifnya diubah dan diedarkan secara terbatas,” ujar Fifia.

Selain mata uang atau alat tukar kuno ada pula mata uang Republik Indonesia saat baru merdeka dan beberapa tahun setelahnya. Selain ada uang, dipamerkan pula alat pencetak uang, tembikar penyimpanan uang atau celengan. Sayangnya kemarin narasi artefak atau teks keterangan dan alur yang menjelaskan tentang periodisasi uang ini belum siap dipajang. Ada pula media interaktif dengan layar sentuh yang bisa menarik pengunjung anak-anak untuk mengetahui sejarah mata uang ini.

Menengok Puluhan Lampu Kuno

Selain pameran tentang mata uang atau alat tukar kuno, juga dipamerkan lampu-lampu kuno yang terbuat dari beragam material juga dalam pameran “Pendar: Kilas Terang Meretas Bayang”. Yang menarik adalah deretan lampu-lampu minyak gantung  berbahan perunggu yang berasal dari abad 9 hingga 16 masehi yang ditemukan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan di Sumatera Utara. Lampu-lampu minyak gantung beragam jenisnya, ada yang berornamen makhluk  mitologi seperti manusia berkepala burung,  gabungan ikan, buaya, gajah, atau bentuk lain. Ada yang menampilkan figure anak-anak, perempuan bersila Lampu-lampu ini diperkirakan sebagai alat penerangan sekaligus ritual keagamaan.

BACA JUGA:   Tyla Jadi Lineup di LaLaLa Festival 2024, Sepanggung dengan Conan Gray, Aurora, dan Tori Kelly

Media interaktif dengan layar sentuh yang menjelaskan tentang sebuah lampu minyak kuno Sri Tanjung pada pameran “Pendar: Kilas Terang Meretas Bayang” di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, 24 April 2026. Tempo/Dian Yuliastuti

Peradaban terus berjalan dan alat penerangan juga makin berkembang pembuatannya hingga zaman modern. Semula alat penerangan memakai bahan minyak kelapa atau minyak jarak, kemudian diganti dengan minyak tanah, hingga bertenaga listrik. Bahan pembuatan lampu makin beragam mulai dari tembikar, perunggu, kuningan, kaca, porselen, kristal dan sebagainya.

Tidak hanya berupa lampu gantung tapi juga beragam ke lampu meja, lampu rias, lampu ruang. Dari yang semula untuk alat penerangan dan ritual menjadi alat penerang yang lebih dekoratif,  yang menjadi simbol kemewahan seperti yang terbuat dari porselen, kristal untuk hiasan, lampu dinding atau lampu gantung. Dipamerkan pula beberapa koleksi di era Kolonial Belanda hingga abad 20-an.

Pameran “Pendar: Kilas Terang Meretas Bayang” yang menampilkan evolusi pencahayaan serta spiritualitas masyarakat Nusantara sejak peninggalan abad ke-9 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, 24 April 2026. Tempo/Dian Yuliastuti

BACA JUGA:   Emiten Pakan Udang Golden Westindo Artajaya (GWAA) Siap IPO, Incar Dana Rp82,28 Miliar

Ragam Acara untuk Memeriahkan Ulang Tahun

Esti juga menyampaikan pentingnya upaya untuk melibatkan masyarakat dengan museum. Tidak hanya melalui koleksinya tetapi juga acara atau pendekatan yang lain. “Tantangan ke depan adalah bagaimana museum dapat terus relevan di tengah perubahan zaman. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih terbuka, partisipatif, dan berbasis pengalaman menjadi kunci agar museum tetap hidup dan bermakna bagi masyarakat,” ujarnya.

Karenanya untuk memeriahkan ulang tahun ini sejak kemarin hingga 26 April 2026 akan digelar beberapa acara seperti  Kelas Tari Tradisional bersama Belantara Budaya Indonesia, Bersurat dari MNI, Lokakarya Celengan Clay Painting bersama Titiksatuproject,  Ruang Cerita bersama Aniwayang,  Bincang Sejarah Awal: Java Man, Jejak Indonesia dalam Peta Evolusi Dunia, dan merasakan pengalaman meracik dan menikmati kopi di Rakopi.

Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER