FILM tragedi-romantis Wuthering Heights besutan sutradara Emerald Fennell akan segera mengisi layar bioskop Indonesia mulai Rabu, 11 Februari 2026. Film tersebut merupakan alih wahana dari kisah cinta dengan judul serupa karangan novelis Inggris, Emily Bronte.
Dilansir dari People, Wuthering Heights mengisahkan hubungan cinta tragis antara Heathcliff (Jacob Elordi) dan Cathy (Margot Robbie). Heathcliff adalah seorang anak yatim piatu misterius yang diadopsi oleh sebuah keluarga kaya dan menjalin ikatan kuat dengan Cathy, anak perempuan dari keluarga tersebut. Namun nahas, terlalu banyak intervensi dari prasangka dan tekanan sosial sehingga meracuni ikatan cinta tersebut.
Kecemburuan, obsesi, serta masalah kesenjangan kelas akan mewarnai perjalanan Heathcliff dan Cathy sekaligus menjadi premis untuk skenario tragis yang harus mereka perankan dalam film ini. Letusan gairah dari gesekan hebat dipicu oleh kekayaan, keserakahan, kepemilikan, dan cinta mendalam nan membara hingga berujung pada siklus balas dendam yang turut menghantui selama beberapa generasi.
Wuthering Weights: Film Titanic Generasi Kini
Film Wuthering Heights datang dengan klaim “terhebat sepanjang masa” penuh kekaguman atas karya Emily Bronte. Namun, pengakuan ini tak datang dari penilaian para kritikus, pun lebih-lebih Emily. Akan tetapi, Warner Bros. Pictures sendiri yang menyertakan klaim bombastis tersebut ke dalam trailer film mereka.
Dalam wawancara dengan British Vogue, Robbie turut mengungkap salah satu percakapannya dengan Fennell terkait film tersebut. Kala itu, bintang Barbie membeberkan bahwa sang sutradara ingin Wuthering Heights dikenal secara luas seperti kisah romansa dalam Jack dan Rose di film Titanic (1997). “Saya ingin ini menjadi Titanic generasi ini,” tutur Margot Robbie menirukan Fennell.
Robbie juga menuturkan ucapan Fennell ketika ia mengenang momen pergi ke bioskop untuk menonton Romeo & Juliet sebanyak delapan kali. “Dan saya menangis tersedu-sedu ketika tidak diizinkan kembali menontonnya untuk yang kesembilan. Saya ingin film ini seperti itu,” ujar Robbie melanjutkan ucapan Fennell.
Masih dalam wawancara serupa, Robbie juga turut menyampaikan harapannya untuk film Wuthering Heights dengan banyaknya kritik dan keraguan dari banyak orang. Ia pun bertekad untuk mempercayai insting-nya sendiri dengan belajar dari pengalamannya dalam film Barbie yang juga sempat diragukan industri perfilman tetapi justru melenggang menjadi ikon budaya. “Anda harus mengabaikan semua orang dan percaya bahwa apa yang Anda hasilkan adalah sesuatu yang akan disukai orang,” ucap Robbie.
Kata Para Kritikus tentang Wuthering Heights
Setelah penayangan uji cobanya beberapa waktu lalu, Wuthering Heights pun mendapat komentar yang beragam dari beberapa kritikus film. David Rooney misalnya, yang menyebut film tersebut penuh aksi, provokatif, berlumuran warna menyala dan desain mewah, dihiasi sentuhan anakronistik, seksi, mesum, kurang ajar, serta sangat tragis. “Seringkali berada di ambang antara konyol dan cerdas. Dijamin akan membasahi air mata dan membangkitkan hati kaum muda,” tulisnya untuk The Hollywood Reporter.
Pendapat hampir senada dilontarkan oleh David Sims dari The Atlantic yang menilai Wuthering Heights memberikan keseruan pengalaman dalam menonton film. Namun di satu sisi, film tersebut juga dinilai Sims sebagai “kekacauan yang menjijikkan dan kotor” dengan beberapa adegan yang “mengganggu” di dalamnya. “Inilah estetika Fennell secara keseluruhan: sangat bergaya di permukaan, dan sama menjijikkannya di bawah permukaan,” tulis Sims.
Opini berbeda datang dari Clarisse Loughrey dengan menyebut film ini hanya menggunakan kedok interpretasi untuk “mengupas kulit” salah satu novel paling bersemangat dan penuh kekerasan emosional yang pernah ditulis. Kupasan kulit tersebut lantas dilempar ke atas klise romantis apapun yang tampaknya memiliki peluang terbesar secara komersil di pasaran. “Adaptasi atau bukan, ini adalah karya yang sangat hampa,” tulis Loughrey untuk The Independent.

