Jakarta, CNN Indonesia —
Amerika Serikat menegaskan serangan Israel ke kamp pengungsi di Rafah Jalur Gaza Palestina tak akan mengubah kebijakan dan dukungan dari Washington ke Tel Aviv, termasuk soal memasok senjata.
Dilansir dari CNN, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby mengatakan serangan Israel pada Minggu (26/5) bukanlah operasi skala besar sehingga Washington tak perlu mengubah kebijakan apa pun terhadap Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Tidak ada perubahan kebijakan apapun menyusul serangan [Israel] pada Minggu,” kata Kirby pada Selasa (28/5).
“Israel akan menyelidikinya. Kami akan memonitor hasil investigasi tersebut,” lanjut dia.
Pernyataan Kirby ini mengindikasikan bahwa Israel belum melewati “garis merah” yang ditetapkan AS, meski telah melancarkan serangan yang menewaskan 45 warga sipil di Rafah, selatan Gaza.
Pernyataan Kirby itu muncul setelah Israel disebut menggunakan amunisi buatan AS saat melancarkan serangan udara ke kamp pengungsi di Rafah, Minggu (26/5). Serangan itu menewaskan puluhan warga Palestina.
Berdasarkan analisis video yang diambil dari lokasi peristiwa, CNN menemukan bahwa amunisi-amunisi yang menyebabkan tenda-tenda pengungsi terbakar merupakan amunisi buatan Negeri Paman Sam.
Menurut empat ahli senjata peledak yang meninjau video tersebut, ekor bom GBU-39, bom berdiameter kecil buatan AS, terlihat jelas dalam video yang tersebar di media sosial. Video itu telah ditetapkan geolokasinya oleh CNN.
GBU-39 adalah bom yang diproduksi oleh Boeing. Ini merupakan amunisi presisi tinggi yang dirancang untuk menyerang target strategis. Hasil dari penggunaan bom ini yaitu kerusakan dengan skala rendah.
Dikutip CNN, Presiden AS Joe Biden sebelumnya mengatakan bahwa Washington bakal menangguhkan pengiriman senjata maupun bantuan lain ke Israel jika bantuan-bantuan tersebut digunakan untuk menyerang maupun merugikan warga sipil.
Terkait hal ini, Kirby mengatakan bahwa Israel tidak melakukan operasi darat besar dalam serangan di Rafah. Washington baru akan mengambil langkah yang berbeda apabila Israel mengerahkan ribuan tentara memasuki wilayah selatan Gaza itu.
“Jika itu terjadi, Presiden Biden mungkin akan membuat keputusan yang berbeda dalam hal dukungan. Sejauh ini kami belum melihat itu terjadi,” ucap Kirby.
Biden sendiri belum memberikan komentar apa pun setelah insiden ini. Berbeda dengan negara-negara Eropa lain yang mulai melontarkan kritik dan kecaman keras terhadap Israel.
Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan mengaku “marah” melihat serangan yang terjadi pada warga sipil Palestina tersebut. Dia mendesak agar operasi di Rafah segera dihentikan.
“Tidak ada daerah aman di Rafah bagi warga sipil Palestina. Saya menyerukan penghormatan penuh terhadap hukum internasional dan gencatan senjata segera,” kata Macron.
Pasukan militer Israel meluncurkan serangan udara ke sebuah kamp pengungsian di Rafah, selatan Gaza, pada Minggu (26/5), hingga menewaskan 45 orang dan melukai lebih dari 200 orang lainnya.
Israel mengklaim serangan itu menargetkan kompleks Hamas. Dua pejabat senior Hamas diklaim tewas dalam serangan tersebut.
Kendati begitu, serangan udara itu pada kenyataannya menyebabkan kebakaran hebat pada tenda-tenda warga sipil yang mengungsi di Tel Al-Sultan. Banyak anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia tewas akibat kebakaran tersebut.
Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Daniel Hagari mengatakan pihaknya “tak menduga” bahwa serangan itu mengakibatkan kebakaran hebat di kamp pengungsian warga sipil. Dia lantas menyebut serangan mereka merupakan ketidaksengajaan.
(blq/rds/bac)