Tuesday, May 5, 2026
HomeBisnisDi Semeru, 8 Macan Tutul Teridentifikasi

Di Semeru, 8 Macan Tutul Teridentifikasi

Bisnis.com, JAKARTA — Sebanyak delapan Macan Tutul Jawa berhasil teridentifikasi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) melalui survei berbasis kamera pengintai, menandai perkembangan penting dalam upaya pemetaan populasi satwa endemik Pulau Jawa tersebut.

Identifikasi ini merupakan hasil tahap awal Java Wide Leopard Survey (JWLS) yang berlangsung hingga Juli 2025. Dari total temuan tersebut, terdiri atas 1 individu jantan, 6 betina, serta 1 anakan. Survei lanjutan masih berlangsung untuk melengkapi gambaran populasi secara lebih komprehensif.

Direktur Yayasan SINTAS Indonesia Hariyo T. Wibisono menyampaikan bahwa ketersediaan data akurat menjadi tantangan krusial dalam upaya pelestarian macan tutul Jawa. Tanpa informasi yang memadai terkait jumlah individu, struktur populasi, serta konektivitas habitat, kebijakan konservasi berisiko tidak tepat sasaran.

Di sisi lain, tekanan terhadap habitat terus meningkat akibat perubahan bentang alam dalam beberapa dekade terakhir. Kondisi tersebut mendorong macan tutul Jawa keluar dari habitat alaminya dan meningkatkan potensi interaksi dengan manusia.

Menurut Hariyo, kebutuhan dasar spesies ini relatif sederhana, yakni habitat yang aman, cukup luas untuk wilayah jelajah, serta memiliki konektivitas antar kawasan. Dalam kondisi Pulau Jawa seperti saat ini, memahami satwa liar bukan lagi sekadar pengetahuan, tapi sudah kebutuhan.

BACA JUGA:   Jaksa KPK: Tax Amnesty Tak Hapus Pidana Rafael Alun

“Hutan adalah rumah mereka, dan kehadiran manusia di sekitarnya pasti membawa dampak. Selama kita tidak mengganggu atau memprovokasi, satwa seperti macan tutul Jawa juga tidak akan menyerang. Maka, jika berbagi ruang semakin sulit, berbagi waktu adalah solusi yang paling realistis untuk tetap hidup berdampingan,” kata Hariyo dalam keterangan resmi, Selasa (5/5/2026).

Selain penguatan basis data, program ini juga diiringi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Puluhan peserta dari berbagai lembaga telah dilatih dalam teknik penggunaan kamera pengintai serta pengelolaan dan analisis data, guna mendukung kegiatan monitoring satwa liar secara berkelanjutan.

Di tingkat lapangan, masyarakat sekitar kawasan hutan turut menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Warga memahami bahwa kemunculan macan tutul di sekitar permukiman sering kali berkaitan dengan terganggunya habitat alami.

Pendekatan hidup berdampingan pun dinilai menjadi solusi yang lebih realistis dibandingkan upaya pengusiran, dengan menjaga kelestarian hutan sebagai kunci utama.

Di tengah tekanan terhadap ekosistem Pulau Jawa, temuan delapan individu macan tutul ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada perlindungan spesies, tetapi juga pada upaya menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia dan kelestarian alam.

BACA JUGA:   DPR Akan Panggil KY & MA Dalami Putusan Bebas Ronald Tannur di PN Surabaya

Program survei ini melibatkan kolaborasi sejumlah pihak, seperti Bakti BCA bersama Kementerian Kehutanan RI, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) dan Yayasan SINTAS Indonesia. Tim berfokus pada pengumpulan data populasi sebagai dasar penyusunan strategi konservasi jangka panjang.

“Sejak 2024, kontribusi ini memperkuat upaya pengelolaan konservasi berbasis data, sekaligus mendukung pemerintah dalam usaha pelestarian macan tutul Jawa di Indonesia,” kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn.

Program ini juga telah melatih 84 peserta untuk teknik survei menggunakan kamera pengintai, dan 16 peserta untuk teknik manajemen dan analisis data kamera pengintai dari berbagai lembaga, termasuk Unit Pelaksana Teknis Ditjen KSDAE dan BBKSDA Jawa Timur.

Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER