Bisnis.com, PADANG PARIAMAN – Sejumlah remaja yang berada di Nagari/Desa Pasia Laweh, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat, mengalami stres akibat trauma menghadapi bencana banjir.
Berdasarkan data yang dihimpun para dosen Universitas Negeri Padang (UNP) yang melalui kegiatan pengabdian masyarakat di desa itu, dari remaja yang dilakukan skrining didapatkan bahwa 75% ramaja mengalami kecemasan ringan yaknj 60 % dan mengalami kecemasan berat dan lebih dari 30%, dan hal ini dampak dari mengalami depresi ringan pasca bencana.
Ketua tim pengabdian masyarakat dari UNP Ramaita mengatakan Nagari/Desa Pasia Laweh merupakan salah satu wilayah yang terdampak banjir bandang. Bencana tersebut tidak hanya menimbulkan dampak terhadap kondisi fisik dan sosial masyarakat, tetapi juga memberikan dampak psikologis, khususnya bagi kelompok remaja.
“Kami mendapatkan kondisi sebagian remaja mengalami stres, kecemasan, gangguan tidur, rasa takut berlebihan ketika hujan turun, hingga gangguan konsentrasi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” katanya, Minggu (16/8/2026).
Dia menyampaikan dari kondisi itu, upaya yang dilakukan, tim pengabdian UNP menghadirkan pendekatan berbasis keperawatan jiwa komunitas melalui pelaksanaan Terapi Kelompok Suportif.
Menurutnya kegiatan tersebut bisa menjadi wadah bagi remaja untuk saling berbagi pengalaman, mengekspresikan perasaan, memperoleh dukungan dari teman sebaya, serta belajar membangun strategi koping yang lebih adaptif dalam menghadapi dampak psikologis pascabencana.
Ramaita yang juga Dosen departemen Keperawatan Prodi D3 Keperawatan Fakultas Psikologi dan Kesehatan Universitas Negeri Padang, menjelaskan program itu dirancang tidak hanya untuk memberikan intervensi sesaat, tetapi juga membangun kemampuan dan kemandirian remaja dalam menjaga kesehatan mental mereka.
“Bencana dapat meninggalkan dampak psikologis yang cukup lama, terutama bagi remaja. Oleh karena itu, melalui terapi kelompok suportif, edukasi kesehatan mental, pembentukan konselor teman sebaya, hingga penyediaan Pojok Tenang Remaja, kami berupaya membangun sistem dukungan yang dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat,” ucap dia.
Dikatakannya dalam pelaksanaan terapi kelompok suportif dilakukan secara terstruktur dalam beberapa kelompok kecil. Dalam setiap sesi, peserta diberikan kesempatan untuk mengenali dan mengungkapkan pengalaman emosional yang dialami pascabencana.
Kemudian para remaja yang hadir itu juga mendapatkan pendampingan dalam memahami stres dan kecemasan, melakukan pengelolaan emosi, latihan relaksasi, serta mengembangkan strategi koping adaptif.
Dia bilang berdasarkan hasil evaluasi kegiatan melalui pengukuran sebelum dan setelah intervensi, pelaksanaan terapi kelompok suportif menunjukkan hasil yang sesuai dengan target program. Remaja mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dan terjadi perubahan positif pada kondisi stres dan kecemasan peserta setelah pelaksanaan intervensi.
Selain terapi kelompok suportif, lanjut dia, tim pengabdian juga memberikan edukasi kesehatan mental kepada para remaja.
“Materi yang diberikan meliputi pengenalan stres dan kecemasan, tanda dan gejala masalah psikologis pascabencana, pentingnya menjaga kesehatan mental, serta berbagai strategi koping yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Dia menyampaikan kegiatan edukasi dilaksanakan secara interaktif melalui diskusi, tanya jawab, berbagi pengalaman, dan latihan sederhana. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman remaja mengenai kesehatan mental dan kemampuan mereka dalam mengenali serta menghadapi masalah psikologis secara lebih adaptif.
“Program berikutnya adalah pembentukan kelompok konselor teman sebaya di tingkat nagari/desa. Kelompok ini dibentuk sebagai salah satu strategi keberlanjutan program agar dukungan psikososial bagi remaja dapat terus berjalan setelah kegiatan pengabdian selesai,” tegasnya.
Selain itu, tim pengabdian melakukan kepada para calon konselor teman sebaya kemudian mendapatkan pelatihan mengenai dasar-dasar kesehatan mental remaja, pengenalan tanda awal stres dan kecemasan, keterampilan komunikasi dan dukungan emosional, serta pemahaman mengenai mekanisme rujukan apabila ditemukan remaja yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Melalui pelaksanaan program tersebut, kelompok konselor teman sebaya berhasil terbentuk dan menunjukkan peningkatan pengetahuan serta kesiapan untuk menjadi bagian dari sistem dukungan psikososial bagi remaja di lingkungan di desa tersebut.
“Jadi tidak hanya berfokus pada aspek terapi dan edukasi, tim pengabdian juga membentuk Pojok Tenang Remaja. Ruang ini dirancang sebagai tempat yang dapat dimanfaatkan remaja untuk menenangkan diri, mengelola emosi, melakukan aktivitas positif, berbagi cerita, dan memperoleh dukungan dari teman sebaya maupun pihak terkait,” tutur dia.
Ramaita mengatakan pada Pojok Tenang Remaja dilengkapi dengan berbagai media dan sarana pendukung yang dapat membantu proses relaksasi dan pengelolaan emosi.
Oleh karena itu, keberadaan fasilitas tersebut menjadi salah satu bentuk luaran nyata program yang diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh remaja dan masyarakat Nagari/Desa Pasia Laweh.
Anggota tim pengabdian, Reska Handayani mengatakan selama kegiatan berlangsung antusiasme remaja selama kegiatan sangat baik. Mereka aktif mengikuti terapi, edukasi, diskusi, dan berbagai pelatihan.
“Hal ini menjadi modal penting untuk keberlanjutan program kesehatan mental berbasis masyarakat,” katanya.
Tidak hanya itu, tim pengabdian juga melakukan pendampingan dan evaluasi bersama mitra untuk memastikan seluruh program dapat terus dikembangkan secara mandiri. Peran perangkat nagari, Karang Taruna, tenaga kesehatan, dan kelompok remaja menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan.
Menurutnya program tersebut sekaligus menjadi wujud penerapan keilmuan dosen dan mahasiswa UNP dalam membantu menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Dimana untuk pendekatan keperawatan jiwa berbasis komunitas yang diterapkan diharapkan dapat menjadi salah satu model pemberdayaan masyarakat dalam memperkuat kesehatan mental remaja, khususnya di wilayah yang terdampak bencana.
“Kami berharap program yang telah dilaksanakan tidak berhenti sampai di sini. Konselor teman sebaya, Pojok Tenang Remaja, serta berbagai kegiatan positif yang telah dibangun dapat terus dikembangkan oleh masyarakat di desa itu,” harap dia.
Dia menyebutkan pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan kesehatan mental masyarakat,” tutupnya.
Dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat UNP ini, juga melibatkan mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan PSDKU Pariaman yaitu Afdhal Muzakky dan Ameliza, serta didukung oleh mitra lainnya.

