Thursday, May 7, 2026
HomeHiburanPancaran Tumbuh Tanpa Takut dalam Pameran Seni Rupa Kids Biennale 2025

Pancaran Tumbuh Tanpa Takut dalam Pameran Seni Rupa Kids Biennale 2025

TEMPO.CO, Jakarta – Pameran seni rupa anak dan remaja Kids Biennale Indonesia digelar untuk ketiga kalinya. Tahun ini, pameran yang mengangkat tema “Tumbuh Tanpa Takut” itu menampilkan 142 karya anak dan remaja Indonesia serta tiga seniman kolaborator yakni Re-Exp, Nuki Alwi, dan Darren Chandra. Pameran ini berlangsung mulai 4 hingga 31 Juli di Gedung B dan D Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.

Dalam catatan kuratorial, kurator menuturkan perjalanan anak-anak dan remaja untuk tumbuh seringkali terganggu oleh ancaman kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi, sementara mereka sebagai benih masa depan. “Ketiga isu besar ini tidak hanya merusak rasa aman mereka, tetapi juga menghambat kreativitas, keberanian, dan kebebasan mereka untuk bermimpi,” tulisnya. 

Tema “Tumbuh Tanpa Takut” Dihadirkan di Kids Biennale

Kids Biennale Indonesia tahun ini sebagai medium perlawanan, kesetaraan, penyembuhan, pemberdayaan, dan mempertemukan berbagai pihak untuk bekerjasama dalam menciptakan dunia yang lebih baik. “Seni menjadi bahasa universal untuk menyoroti isu-isu mendesak, sekaligus menawarkan harapan dan solusi,” tulisnya.

Selama masa submisi karya sepanjang dua bulan, telah terkumpul 1.026 karya dengan antusiasme anak dan remaja di pelbagai penjuru Indonesia. Setelah melewati proses kurasi, maka terpilih 142 karya yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia. Namun, di Gedung B, terdapat karya-karya yang tak lolos kurasi ditampilkan melalui layar kecil khusus domisili Jabodetabek.

BACA JUGA:   AKBP Rossa: Tim Satgas OTT Hasto Langsung Diganti Usai Operasi PTIK

Sebanyak 142 karya itu datang baik dari kelompok, komunitas, hingga individu. Dari mulai sekolah formal tingkat sekolah dasar hingga menengah atas, dari kelas les menggambar di kota besar hingga komunitas seni di pelosok tengah hutan, dari homeschooling hingga sekolah luar biasa (berkebutuhan khusus). “Pameran ini dirancang untuk membangkitkan kesadaran, menciptakan dialog, dan menginspirasi aksi nyata untuk anak-anak dan remaja,” tulisnya.

Dirancang untuk Anak Usia 6-17 Tahun

Dewan Penasihat Kids Biennale Indonesia Maya Sujatmiko mengatakan pameran ini dirancang untuk melibatkan anak-anak dan remaja usia 6-17 tahun, serta anak berkebutuhan khusus usia 6-22 tahun dalam proses kreatif lintas disiplin. Berangkat dari pemahaman bahwa seni memiliki peranan penting dalam perkembangan kognitif, emosional, dan sosial, kata dia, Kids Biennale percaya bahwa menciptakan ruang bagi anak dan remaja untuk mengeksplorasi imajinasi.

Selain itu, Maya menambahan. pameran ini juga diharapkan dapat mengembangkan kreativitas, dan membangun kesadaran terhadap isu sosial dan lingkungan ketika berhadapan dengan situasi kebutuhan mendesak. “Program ini berupaya menghadirkan ruang kreatif yang holistik,” katanya.

BACA JUGA:   Hakim Tipikor Tak Bebankan Karen Bayar Uang Pengganti Rp1 Miliar

Tema “Tumbuh Tanpa Takut” tercermin saat pengunjung memasuki ruangan sekat pertama Gedung B. Sebuah karya seni dari kolaborator Darren Chandra terpampang bergelantungan di tengah ruangan yakni “Seri Pikiran” yang terdiri dari enam lukisan berbentuk bulat dengan latar putih dan objek gambar menyerupai warna arsiran pensil. 

Dalam lukisan, tampak bentuk-bentuk fantasi sekaligus spiritual yang menyerupai bunga, buah tajam, tangkai, lidah berduri, hingga mata menjulur liar. Darren seakan memberitahu pengunjung mengenai kerja otak manusia yang kompleks dan fantastis. 

Sementara beberapa karya hasil kurasi seperti karya media campuran berjudul “Pendampingku” dari Reynold Alexander Sie, 11 tahun, asal Surabaya. Ia seolah menghantam tiap obyek dalam karyanya yang menampilkan karakter-karakter yang ada di TV. Tayangan-tayangan yang ditonton anak-anak akan mempengaruhi pertumbuhan pola pikir dan kehidupan keseharian anak. Lewat warna cerah yang saling bertabrakan itu pula ia ingin menunjukkan secara positif menjadi anak yang berani dan bertumbuh dengan baik.

Pada karya akrilik di atas kanvas berjudul “Kesatria Kecil” milik Meila Mustikawati. 17 tahun, asal Gunungkidul, menampilkan di atas panggung kecil seorang anak bermain dengan kuda mainan dan pedang kayu di tangannya, namun sorot lampu yang membentuk dirinya menjadi besar terlihat melalui bayangan. “Lukisan ini adalah tentang berani bermimpi, bermain, dan menjadi diri sendiri,” tulisnya.

BACA JUGA:   RI Butuh Dukungan Pembiayaan untuk jadi Pusat Perdagangan Karbon Regional

Sementara karya kolaborator Re-Exp berisi Evan dan Attina asal Bandung yang menampilkan tiga karya dari benda-benda tak terpakai. Pada karya pertama “Mesin Pembentuk Jiwa di Bengkel Rahasia” menampilkan sosok robot pria dan wanita beserta kursi panjang. Kehadiran karya ini mengesankan sepasang orang tua yang senantiasa menemani anak-anaknya bermain dan berproses. 

Karya kedua bertajuk “Manifestasi Mimpi” yang dibuat dari sampah kain yang menampilkan boneka yang melambangkan pertumbuhan manusia dengan segala harapan, mimpi, dan impian yang menghiasi perjalanan hidup nan penuh kisah. Pada karya ketiga berjudul “Kenangan pada Puing Waktu” dari kain daur ulang yang membentuk arena bermain seluncuran. “Karya ini sengaja membangkitkan dualitas emosi: kebahagiaan bermain dan kegelisahan akan realitas kurangnya fasilitas bermain  serta lingkungan layak bagi sebagian anak,” katanya.

Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER